Uncategorized

Darmin: Harga Acuan Bahan Pangan Bisa Redam Inflasi

Harga batas atas dan bawah ini akan dievaluasi setiap empat bulan sekali | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Axa

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, harga acuan bahan pangan ini akan diatur di dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) yang rencananya terbit pekan ini. Rencananya, harga batas atas dan bawah ini akan dievaluasi setiap empat bulan sekali.

“Misalnya, beras, harga batas bawah Rp7.300 per liter dan harga batas atas Rp9.500 per liter. Nah, itu nanti setiap empat bulan dievaluasi,” papar Enggartiasto di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, kemarin.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini penetapan harga batas atas dan batas bawah untuk sejumlah komoditas pangan mampu menekan laju inflasi yang didorong oleh inflasi komponen bahan pangan bergejolak (volatile food).

Di sisi lain, ia berharap, pedagang tidak perlu khawatir dengan pemberlakukan harga acuan pangan yang ditakutkan tidak mencerminkan kondisi perekonomian antar waktunya. Pasalnya, harga referensi akan terus dievaluasi selama jangka waktu tertentu dengan memperhatikan tren permintaan dan penawaran bahan pangan di pasaran.

“Jadi, itu bukan harga mati, melainkan hanya referensi saja. Kalau memang harga pangan perlu distabilkan, ya pemerintah pasang badan. Tentu kalau ada perubahan (di dalam mekanisme pasar), ya akan dievaluasi,” katanya.

Darmin mengatakan, penetapan referensi ini bisa mencegah harga pangan melambung tinggi dalam kondisi ekonomi eksternal tertentu. Jika harga pangan bisa dikendalikan, maka inflasi bisa ditekan signifikan, mengingat volatile food selalu menjadi kontributor terbesar di dalam inflasi bulanan.

Sebagai contoh, melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2016 lalu, harga bahan pangan memberi andil deflasi sebesar 0,13 persen dari deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,02 persen. Harga bahan pangan tercatat sebagai penyumbang deflasi terbesar kedua setelah transportasi, jasa keuangan, dan komunikasi yang berkontribusi sebanyak 0,19 persen.

“Kami percaya bahwa dengan adanya harga referensi, gejolak itu semakin kecil, sehingga fluktuasi harganya tidak terlalu tajam,” tutur Darmin di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (14/8).

Kendati demikian, menjaga kestabilan harga pangan tak cukup dengan membuat harga acuan saja. Darmin melanjutkan, pemerintah juga akan mencari cara agar kebutuhan pangan dalam negeri bisa didapat dengan cara yang lebih efisien.

“Kami ambil contoh harga daging yang dalam setahun ke depan akan kami antisipasi dengan impor dari Amerika Latin agar harga yang ada selama ini bisa turun. Kemudian, kami akan impor daging kerbau, bukan sapi hidup, untuk menekan lebih lanjut harga daging,” jelasnya.

Ini Harga Acuan 7 Komoditas Pangan dari Pemerintah | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Axa

Kementerian Perdagangan telah menerbitkan peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) No 63/M-DAG/ PER/9/2016 mengenai Harga Acuan di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Dalam Permendag ini, Kemendag telah menetapkan harga acuan pembelian di petani (HPP) dan harga acuan penjualan di konsumen (HPK) untuk tujuh komoditas pangan per Kilogram (kg). Komoditas ini terdiri dari beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabai, serta daging sapi dan kerbau.

Bawang merah terdiri dari tiga HPP yakni bawang merah konde basah Rp 15.000, konde askip Rp 18.300, dan Rogol Askip Rp 22.500. Untuk HPK Rp 32 ribu. Untuk HPP cabai merah keriting Rp 15 ribu, cabai merah besar Rp 15 ribu, dan cabai rawit merah Rp 17 ribu. Sementara HPK cabai merah keriting Rp 28.500, cabai merah besar Rp 28.500, dan Cabai rawit merah Rp 29 ribu.

Untuk beras, pemerintah menetapkan harga HPP gabah kering panen Rp ‎3.700, harga gabah basah Rp 4.600, dan beras Rp 7.300. Sedangkan HPK beras maksimal Rp 9.500. Komoditas jagung terbagi menjadi lima yaitu jagung dengan kadar air 15 persen Rp 3.150, kadar air 20 persen Rp 3.050, kadar air 25 persen Rp 2.850, kadar air 30 persen Rp 2.750, kadar air 35 persen Rp 2.500. Sementara HPK jagung hanya ada untuk jagung dengan kadar air 15 persen yaitu Rp 3.650-3.750.

HPP kedelai lokal berada di harga Rp 8.500, kedelai impor Rp 6.550. Untuk HPK‎ kedelai lokal Rp 9.200, dan kedelai impor Rp 6.800. HPP gula dasar Rp 9.100‎, gula lelang Rp 11 ribu, sementara HPK gula lelang Rp 13 ribu.

Berbeda dengan enam komoditas lain, khusus untuk daging sapi dan daging kerbau, Kemendag tidak memasukan HPP, Kemendag hanya memasukan HPK. Untuk daging sapi segar bagian paha depan akan dijual ke masyarakat dengan harga Rp 98 ribu, paha belakang Rp 105 ribu, sandung lamur Rp 80 ribu, dan tetelan Rp 50 ribu. Sedangkan untuk daging sapi beku pemerintah akan menjual dengan harga Rp 80 ribu. Harga daging kerbau beku yang saat ini banyak didatangkan akan dijual dengan harga Rp 65 ribu.

Mendag Jamin Harga Acuan Pangan Tetap Untungkan Petani | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Axa

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan kebijakan harga acuan pangan tidak akan merugikan petani. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 63 Tahun 2016 tentang‎ Harga Acuan Pembelian Di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen‎.

Enggar mengungkapkan, selama ini yang banyak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga pangan adalah pihak-pihak yang bermain di rantai pasok distribusi. Sedangkan petani dan konsumen yang paling rugi.
“Mata rantai yang harus dijaga. Maka kenapa saya keluarkan harga acuan, bekerja sama dengan Mentan (Menteri Pertanian). Ini bersama Pak Mentan untuk melihat berapa petani dan peternak ini untung, tapi tidak berlebihan. Ini mata rantai berlebihan yang kita potong.‎ Pengusaha harus untung tapi jangan berlebihan,” tutur dia.

Enggar mengungkapkan, penetapan harga acuan di tingkat petani ini untuk memberikan kepastian agar hasil panen dibeli dengan harga yang menguntungkan. Pasalnya selama ini harga pangan di tingkat petani sering kali tidak membawa untung bagi petani yang bersangkutan.

“Penurunan (harga) itu jangan berdampak pada petani. Karena kenaikan harga (yang selama ini terjadi) juga tidak memberikan dampak positif kepada petani. Yang itu harus dilihat betul. Kalau harga naik petani tetap miskin. Jadi jangan ada penyesatan untuk ini, saya bisa kejar,” ujar dia usai membuka acara The 2nd ASEAN Marketing Summit 2016 di The Kasablanka, Jakarta, Kamis (15/9/2016).

‎”Harga batas minum ini banyak, ada beberapa item, seperti yang beras Rp 7.300 per kg (di tingkat petani), gabah kering Rp 3.700. Itu kemudian ada HPP (harga pembelian pemerintah) dan HET-nya (harga eceran tertinggi). Kemudian jagung juga sudah ada. Ini kalau beras dia sampai Rp 9.550 misalnya karena harga tertingginya Rp 9.500 (di tingkat konsumen), kita langsung intervensi. Tapi ini bagaimana suplai dan demand. Kita ada rasio stok. Kalau petani hasil pertanian dan peternakan diserap, ini Bulog sebagai standby buyer,” tandas dia.

Dalam Permendag ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatur harga acuan untuk tujuh bahan pangan pokok seperti daging, beras, bawang merah, gula, kedelai, jagung, dan cabai‎. Masing-masing bahan pangan ini memiliki harga acuan tersendiri baik di tingkat petani maupun konsumen.

Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s