Uncategorized

Neraca Perdagangan: Ekspor Kembali On The Track

Peningkatan ekspor Agustus 2016 di dorong naiknya ekspor nonmigas | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Palembang

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan terbesar ekspor nonmigas Agustus 2016 terhadap Juli 2016 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam mencapai US$285,7 juta atau naik 151,94%. Lemak dan minyak hewan/nabati juga mengalami peningkatan 18,17% menjadi US$220,8 juta.

Kendati mengalami kenaikan, tren ekspor keseluruhan tahun ini belum bisa menyamai pencapaian tahun lalu. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari 2016-Agustus 2016 mtercatat US$91,73 miliar atau menurun 10,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai ekspor keseluruhan tahun lalu mencapai US$150,25 miliar.

“Kelihatannya masih agak sulit , sampai bulan ini kalau dibandingkan bulan lalu itu masih rendah. Surplusnya juga masih rendah dibandingkan tahun lalu. Tapi, ini baik kembali on the track setelah Lebaran,” katanya, di Jakarta, Kamis (15/9).

Setelah mengalami penurunan, ekspor Agustus 2016 tercatat meningkat 31,54% dibandingkan ekspor Juli 2016. Ekspor tercatat US$12,63 miliar, sementara itu nilai impor Agustus 2016 mencapai US$12,34 miliar atau naik 36,84% dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan ekspor Agustus 2016 disebabkan naiknya ekspor nonmigas menjadi US$11,5 miliar atau 34,84%. Ekspor migas juga naik 12,95% menjadi US$1,12 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan pada Agustus 2016 mengalami surplus US$293,6 juta dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$921,3 juta dan sektor migas justru defisit US$627,7 juta.

Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. David Sumual mengatakan ekspor mengalami kenaikan setelah momentum Idul Fitri yang terjadi pada Juli 2016. Perbaikan ekspor berasal dari kelapa sawit serta lemak dan minyak hewan/nabati. Menurutnya, ekonomi China yang mulai cenderung stabil membuat negara itu kembali memasok produk dari Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan peningkatan ekspor juga dipicu oleh berkurangnya suplai produk di luar negeri karena Indonesia tengah disibukkan oleh momentum Lebaran.
Pasokan yang berkurang itu menyebabkan harga jual barang naik rata-rata 5%.

Kenaikan harga itu bertahan hingga ekspor suplai baru mulai memenuhi permintaan dari negara lain. Dia berharap ekspor dapat terus tumbuh kendati secara tren pada September 2016 ekspor berpotensi menurun. Menurutnya, produk karet dan turunannya seperti ban bisa menjadi andalan ekspor karena harganya yang saat ini sedang turun. Selain itu, kelapa sawit dan cokelat yang sudah diolah juga bisa mendorong ekspor.

“Komoditas yang berpotensi itu kelapa sawit dan turunannya, kopi, dan mobil termasuk bannya. Terutama yang kita punya bahan bakunya diproses disini, cokelat contohnya. Lalu kita ekspor, harga akan kompetitif,” katanya.

Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Akbar Suwardi mengatakan penurunan nilai ekspor sebesar 0,74% dibandingkan Agustus 2015 masih sejalan dengan lemahnya harga komoditas dan permintaan dari mitra dagang utama. Di sisi lain, kadar penurunan sepanjang tahun ini sudah menunjukkan perbaiki.

“Namun harus tetap diwaspadai masih ada kemungkinan penurunan ekspor akan bertambah di akhir tahun,” ucapnya.

Dia juga menyoroti masih negatifnya impor bahan baku dan impor barang modal secara year to date yang dapat menjadi indikasi industri substitusi impor di dalam negeri yang sedang tumbuh. Nilai impor Agustus 2016 mencapai US$12,34 miliar atau naik 36,84% dibandingkan Juli 2016.

Impor nonmigas tercatat US$10,58 miliar atau naik 40,90% dibandingkan Juli 2016 dan impor migas juga naik 16,55% atau mencapai US$1,76 miliar.

Nilai impor golongan bahan baku/penolong turun 10,74% dan barang modal juga turun 12,68% selama Januari 2016-Agustus 2016 mengalami dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 11,79%.

“Meningkatnya impor konsumsi masih normal karena kondisi tersebut lebih didorong oleh koreksi yang cukup dalam di 2015 dan menguatnya rupiah semenjak awal 2016. Bahkan kondisi 2016 ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2014,” ujarnya.

Akbar mengingatkan perlu diwaspadainya perekonomian akibat nilai ekspor-impor yang terus melemah. Menurutnya, hal itu akan berdampak pada berkurangnya sumber pertumbuhan dari ekspor-impor dan kemampuan bayar utang luar negeri.

Saat ini, utang luar negeri pada kuartal II/2016 mencapai US$323,8 miliar atau naik 2,2% dibandinngkan kuartal sebelumnya.

Ekspor Nonmigas Agustus 2016 Menurut Golongan Barang
– Bijih, kerak, dan abu logam US$285,7 juta (naik 151,94%)
– Mesin-mesin/pesawat mekanik US$203,1 juta (naik 54,48%)
– Perhiasan/permata US$185,3 juta (naik 52,58%)
– Kendaraan dan bagiannya US$184,3 juta (naik 50,03%)
-Lemak dan minyak kewan/nabati US$220,8 juta (naik 18,17%)
Sumber: BPS, 2016

BPS Catat Impor Agustus Melonjak | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Palembang

Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Jan­uari-Agustus 2016 menga­lami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 10,74 persen dan 12,86 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 11,79 persen.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga memprediksi neraca perda­gangan masih surplus, yaitu sebesar 420 juta dolar AS.

Menurut David, selain disebabkan oleh penurunan impor, surplus juga terban­tu oleh nilai ekspor yang terkerek oleh pulihnya harga komoditas. Seperti batubara dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil ) atau CPO.

Deputi Bidang Statis­tik, Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, surplus pada Agustus antara lain di­topang kinerja ekspor yang mengalami peningkatan.

“Dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya sebesar 9,53 miliar dolar AS, ekspor Agustus meningkat 32,54 persen,” kata Sasmito di Jakarta, kemarin.

Secara kumulatif nilai im­por Januari-Agustus 2016 mencapai 87,35 miliar dolar AS atau turun 9,42 persen dibandingkan dengan peri­ode yang sama tahun lalu. Kumulatif nilai impor ter­diri dari impor migas 11,96 miliar dolar AS (turun 31,64 persen) dan nonmigas 75,39 miliar dolar AS (turun 4,49 persen).

Peningkatan impor non migas terbesar Agustus 2016 adalah golongan mesin dan peralatan mekanik 559,7 juta dolar AS (41,68 persen). Sedangkan penu­runan terbesar adalah go­longan kapal laut dan ban­gunan terapung 37,2 juta dolar AS (35,63 persen).

Sementara soal asal barang impor non mi­gas, diterangkan Sasmito, terbesar Januari-Agustus 2016 adalah China dengan nilai 19,45 miliar dolar AS (25,80 persen), Jepang 8,42 miliar dolar AS (11,17 persen), dan Thailand 5,90 miliar dolar AS (7,83 pers­en). Impor nonmigas dari ASEANmencapai pangsa pasar 21,84 persen, semen­tara dari Uni Eropa 9,27 persen.

Selain ekspor, impor Agustus juga naik. Realisasi impor tercatat sebesar 12,34 miliar dolar AS atau terjadi kenaikan 36,84 persen dari bulan Juli yang tercatat 9 miliar dolar AS.

Namun jika dibandingkan dengan nilai impor pada pe­riode yang sama tahun lalu sebesar 12,39 miliar dolar AS, impor bulan lalu turun 0,49 persen.

Sasmito merinci data im­por Agustus. Menurutnya, impor non migas menyum­bang 10,58 miliar dolar AS atau naik 40,9 persen jika dibandingkan dengan kontribusi Juli 2016. De­mikian pula dengan impor migas, tercatat naik 16,55 persen jika dibandingkan Juli 2016, menjadi 1,76 miliar dolar AS.

Namun jika dibandingkan dengan perolehan Agustus 2015, impor migas tercatat naik 2,84 persen, sedangkan impor migas turun 16,71 persen.

Kenaikan ekspor impor hanya sementara | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat Cabang Palembang

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, kenaikan kinerja ekspor impor Agustus 2016 terjadi karena aktivitas perdagangan internasional kembali normal pasca lebaran pada Juli 2016.

Banyaknya hari libur di Juli 2016 membuat suplai ekspor turun, hal tersebut menyebabkan harga barang ekspor Indonesia meningkat. “Pembeli di negara lain pasti butuh barang yang selama ini kurang. Karena kurang harganya naik,” katanya, Kamis (15/9).

BPS mencatat, rata-rata harga agregat barang ekspor Indonesia naik 15,34% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan kenaikan impor terjadi karena berdasarkan polanya, permintaan dari dalam negeri juga meningkat pasca lebaran.

Hingga Januari-Agustus 2016, ekspor tercatat sebesar US$ 91,73 miliar dan impor US$ 87,35 miliar. Jumlah itu lebih rendah masing-masing 10,61% dan 9,42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara ekspor manufaktur Januari-Agustus 2016 masih turun 4,37% YoY dan ekspor industri pertanian dan pertambangan yang masing-masing turun 20,69% dan 20,83% YoY.

Dari sisi impor berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruhnya mengalami kenaikan dibandingkan Juli 2016. Impor barang konsumsi naik 60,43%, bahan baku penolong naik 33,37%, dan impor barang modal naik 41,23% dibanding Juli 2016.

Neraca perdagangan Agustus 2016 mencatat suplus sebesar US$ 293,6 juta. Nilai surplus tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Juli 2016 yang sebesar US$ 513,6 juta karena adanya kenaikan impor cukup tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Agustus 2016 sebesar US$ 12,36 miliar, naik 32,54% dibanding Juli 2016. Namun dibandingkan Agustus 2015, masih turun 0,74%. Sementara impor sebesar US$ 12,34 miliar, naik 36,84% dibanding Juli 2016. Nilai itu masih turun 0,49% dibanding Agustus 2015.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, kenaikan ekspor Agustus 2016 lebih disebabkan peningkatan harga komoditas. Harga komoditas ekspor naik karena dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang cenderung naik di akhir Agustus.

Kenaikan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh kurs dollar Amerika Serikat (AS) dari sentimen kenaikan suku bunga The Fed. “Jadi kenaikan harga bukan karena suplai dari Indonesia berkurang, tetapi karena ada dorongan kenaikan harga minyak mentah.

Lana memperkirakan surplus neraca perdagangan tahun ini lebih rendah dari tahun lalu yang tercatat US$ 7,67 miliar. Hal itu mengindikasikan bahwa kinerja ekspor impor telah melewati titik terendahnya yang terjadi pada tahun lalu.

Prediksi surplus neraca dagang Agustus 2016 sudah dikatakan Bank Indonesia (BI) sebelumnya sebesar US$ 150 juta.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, surplus terjadi karena peningkatan ekspor yang tinggi. Sementara kenaikan impor dinilai, menunjukkan aktivitas bisnis di dalam negeri membaik.

Negara-negara Indonesia dan Brasil yang berbasis komoditas mengalami penguatan mata uang cukup signifikan,” kata Lana.

Sementara dari sisi impor, kenaikan impor bahan baku dan barang modal bisa jadi terjadi karena persiapan kenaikan produksi oleh swasta untuk menghadapi akhir tahun. Impor juga naik mengikuti pola musiman pembangunan infrastruktur oleh pemerintah yang lebih gencar.

Lana mengatakan, masih ada kekhawatiran penurunan ekspor dan impor ke depan. Sebab pelonggaran ekspor mineral yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan suplai mineral dari Indonesia.

Hal tersebut bisa mengakibatkan penurunan harga komoditas mineral Indonesia. Sementara dari sisi impor, dikhawatirkan kembali turun. “Di September nanti impor menurun, berarti benar kenaikan di Agustus hanya bersifat sementara,” tambahnya.

Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s