Uncategorized

BKPM Optimis Target Investasi Tahun 2016 Tercapai

Sektor properti dan migas mulai menggeliat | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengungkapkan, sampai dengan Juli 2016, realisasi investasi telah mencapai setengah dari yang ditargetkan. Sampai akhir kuartal III, otoritas investasi meyakini realiasi investasi mampu mencapai 75 persen dari target.

“Sampai Juli kemarin sudah Rp289 triliun, sudah separuh dari target. Kuartal III-2016 kami yakin bisa 75 persen dari Rp594,8 triliun,” ujar Azhar saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa 20 September 2016

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan realisasi investasi hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp594,8 triliun atau meningkat 14,5 persen dibandingkan tahun lalu. Otoritas investasi ini mengaku optimistis target tersebut bisa tercapai.

Azhar mengatakan, realisasi investasi di beberapa sektor saat ini memang sudah mulai menggeliat. Misalnya saja dari sektor properti, maupun minyak dan gas.

“Belum lama ini saya mendatangi groundbreaking di Surabaya. Kemudian investasi smelter dan properti juga tetap berjalan. Jadi kalau mereka investasi sekarang, dua hingga tiga tahun lagi mereka bisa produksi,” tuturnya.

Optismistis tersebut, kata Azhar, seiring dengan adanya keinginan para pengusaha yang diklaim akan tetap melakukan investasi, meskipun kondisi perekonomian dunia cenderung menurun. Menurut dia, ada kemungkinan geliat investasi akan meningkat.

“Pengusaha masih melihat adanya peluang meski ekonomi melambat, Karena kalau mereka membangun sekarang, pasti melihat dua hingga tiga tahun ke depan. Prediksi mereka setiap tahun pasti membaik,” katanya.

Bos BKPM: Terlalu lembek pada Google, tak adil untuk pengusaha lokal | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, memberi saran kepada Direktorat Jenderal Pajak yang tengah mengejar Google agar mau menaati membayar pajak. Mantan menteri perdagangan ini meminta Ditjen Pajak mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

jika pemerintah terlalu keras mengejar pajak Google, dikhawatirkan merusak iklim investasi. Pada akhirnya dikhawatirkan membuat investor asing akan kabur ke negara lain.

“Tapi kalau terlalu keras kita harus sadar realita persaingan regional. Kita juga inginkan investasi dari semua perusahaan digital ini tidak terbatas Google tapi juga Facebook hingga Apple,” tuturnya.

Thomas mengatakan jika terlalu lembek, pemerintah tidak adil terhadap perusahaan multinasional yang telah jadi Badan Usaha Tetap (BUT). Hal itu juga berdampak kecemburuan terhadap pelaku usaha lokal.

“Kalau terlalu soft mungkin tidak adil bagi pelaku domestik yang diwajibkan bayar (pajak) 100 persen,” ujarnya.

“Saya kira kuncinya adalah keseimbangan, kita tentunya harus menargetkan suatu hasil akhir yang fair. Jadi tidak terlalu gencar tapi juga tidak terlalu soft,” katanya saat ditemui di Gedung BKPM, Jakarta, Selasa (20/9).

Kasus Google Tidak Pengaruhi Minat Investasi Perusahaan Digital di Indonesia | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

Meski dewasa ini banyak investasi yang dilakukan oleh perusahaan digital, namun Thomas mengaku para pelaku usaha harus berhati-hati. Apalagi, menurutnya, peningkatan bisnis digital merupakan sebuah siklus yang bisa meningkat atau menurun.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan bahwa adanya kasus Google tidak memengaruhi minat investasi dari perusahaan digital di Indonesia. Dari tahun ke tahun, siklus investasi di sektor usaha tersebut menunjukan adanya peningkatan

“Kalau saya pribadi mau waspada, hati-hati, karena gelombang investasi seperti ini pasti ada siklusnya. Saya sih mengimbau startup dan pengusaha digital waspada kalau nantinya funding tiba-tiba berkurang, harus ada kesiapan untuk antisipasi itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, perusahaan daring Google melakukan perlawanan atas pemeriksaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan mengembalikan Surat Perintah Pemeriksaan (SPP). Padahal setiap perusahaan yang mendapatkan penghasilan dari Indonesia, wajib membayar pajak.

“Saya kira investasi di digital meningkat terus tapi tentunya ada siklusnya. Jadi kemarin mungkin ada sedikit euforia di startup dan digital,” ujar Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, di Kantor BKPM, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (20/9/2016).

Meski dewasa ini banyak investasi yang dilakukan oleh perusahaan digital, namun Thomas mengaku para pelaku usaha harus berhati-hati. Apalagi, menurutnya, peningkatan bisnis digital merupakan sebuah siklus yang bisa meningkat atau menurun.

Rifanfinancindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s