Uncategorized

Pemerintah Tutup 3.915 Pabrik Rokok yang Tak Setor Cukai

DJBC terus melakukan penertiban guna meningkatkan kepatuhan pabrik rokok | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Data dari DJBC menyebutkan sebanyak 3.915 pabrik rokok di seluruh Indonesia ditutup pemerintah selama kurun waktu 2007-2016 setelah menjalani pengawasan administrasi maupun fisik di lapangan.

Dikutip dari keterangan resmi DJBC, Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Ismanu Soemiran mengapresiasi fungsi pengawasan dan penindakan yang dijalankan DJBC terkait industri rokok.

“Pada 2007 jumlah pabrik rokok ada 4.669, tahun ini jumlahnya tinggal 754 pabrik karena kami cukup ketat dalam memberikan izin pendirian pabrik rokok dan banyak melakukan penutupan pabrik-pabrik yang tidak patuh,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, Selasa (27/9).

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) semakin agresif melakukan penutupan pabrik rokok yang diketahui tidak patuh menyetor cukai hasil tembakau (CHT) ke dompet negara.

Ia menegaskan, DJBC berkomitmen untuk selalu melakukan pengawasan terhadap pabrik rokok dan peredaran hasil produksinya di masyarakat.

“Gappri siap mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembinaan industri hasil tembakau,” ujar Ismanu.

Pasalnya, target penerimaan negara dari CHT juga tidak akan terbantu dengan tetap beroperasinya pabrik-pabrik rokok yang mengedarkan rokok secara ilegal tersebut.

Meski jumlah pabrik rokok menyusut 83,85 persen dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, Heru menegaskan aksi menutup pabrik yang diketahui melanggar Undang-Undang (UU) dalam menjalankan kegiatan bisnisnya bakal terus dilakukan.

“Upaya penertiban akan terus dilakukan dalam rangka meningkatkan kepatuhan dan menekan peredaran rokok ilegal. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan pengenaan cukai yaitu pengawasan peredaran rokok,” tandas Heru.

Jumlah pabrik rokok turun signifikan | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyampaikan, penurunan jumlah pabrik itu disebabkan ketatnya pengawasan fisik maupun administrasi. Tercatat pada 2007 jumlah pabrik rokok mencapai 4.669 pabrik, sedangkan saat ini turun drastis menjadi 754 pabrik.

“Pabrik rokok yang tidak patuh kita tutup. Sekarang sisanya haya ada 754 pabrik,” kata Heru dalam keterangan tertulis, Selasa (27/9).

Setelah dilakukan pengawasan secara ketat oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), jumlah pabrik rokok turun signifikan.

Menurut Heru, menurunnya jumlah pabrik rokok disebabkan bea cukai sangat ketat memberikan izin pendirian pabrik rokok. Selain itu, bea cukai juga banyak melakukan tindakan penutupan pabrik rokok yang tidak patuh aturan.

Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI), Ismanu menyambut baik langkah yang dilakukan oleh DJBC. “GAPPRI siap mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembinaan industri hasil tembakau,” ungkapnya.

Bea Cukai Tutup 3.915 Pabrik Rokok dalam 10 Tahun | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengungkapkan, jumlah pabrik rokok sebanyak 4.669 pada 2007 menjadi tinggal 754 pabrik pada 2016. ‎Artinya, jumlah pabrik rokok berkurang 3.915 pabrik selama hampir 10 tahun.

“Pabrik rokok yang tidak patuh kita tutup, sekarang hanya ada 754 pabrik,” ujar Heru dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Heru menambahkan, upaya penertiban tersebut akan terus dilakukan DJBC dalam rangka meningkatkan kepatuhan dan menekan peredaran rokok ilegal. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan pengenaan cukai, yaitu pengawasan peredaran rokok.

Upaya pengawasan administrasi maupun fisik yang dilakukan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membuahkan hasil.

Jumlah pabrik rokok menunjukkan penurunan signifikan dari tahun ke tahun, terutama pabrik rokok yang tidak patuh terhadap aturan termasuk membayar kewajibannya kepada negara.

‎Penurunan jumlah pabrik rokok, kata Heru, disebabkan pengawasan ketat oleh DJBC. “Kami cukup ketat memberikan izin pendirian pabrik rokok dan banyak melakukan penutupan pabrik-pabrik yang tidak patuh,” tegas dia.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (Gappri), Ismanu, menyatakan bahwa pengawasan DJBC sudah berlangsung cukup baik.

“GAPPRI siap mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembinaan industri hasil tembakau,” ucap Ismanu

Bea Cukai berkomitmen untuk selalu mengawasi pabrik rokok dan peredaran hasil produksinya, berkoordinasi dengan instansi penegak hukum dan mengharapkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat.

PT Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s