Uncategorized

Ini Jurus Sri Mulyani Genjot Ekonomi di Akhir Tahun

Pertumbuhan ekonomi 2016 diproyeksikan tumbuh pada level 5,1%  | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyadari hal tersebut dan mulai menyiapkan berbagai strategi agar pada kuartal IV ekonomi kembali naik. Modal utama pendorong perekonomian adalah dana tebusan dari program pengampunan pajak atau tax amnesty. Pada periode I tax amnesty, dana yang masuk ke kas negara mencapai Rp 97 triliun.

Belanja pemerintah pada tahun ini diproyeksikan bisa melebih 95% dari total pagu. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Efeknya pun akan sangat besar terhadap perekonomian.

“Tentu mereka mampu menjalankan ekspansinya. Karena PMN yang disetujui cukup signifikan. Tentu pengaruhnya ke BUMN perlu dipantau sehingga dari sisi jumlah anggaran. Itu harus diteliti lebih lanjut,” terangnya.

Pertumbuhan ekonomi 2016 diproyeksikan tumbuh pada level 5,1% atau lebih rendah dari asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 yang sebesar 5,2%. Ini semakin berat setelah diperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III di bawah realisasi kuartal II-2016 yang sebesar 5,18%.

“Karena Rp 97 triliun dana tebusan terserap pemerintah. Pemerintah secara kas memiliki kas yang cukup. Kita ingin kas dibayarkan kembali, agar ada dampak ke perekonomian, apakah itu disbursement produktif di Kementerian/Lembaga. Supaya bisa dirasakan manfaatnya,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Senin (24/10/2016).

Kemudian adalah Penyertaan Modal Negara (PMN) yang direalisasikan dalam dua tahun terakhir. Sri Mulyani menilai dana yang diberikan sangat besar, sehingga seharusnya sudah bisa melakukan ekspansi dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Biasanya KL hanya bisa belanjakan di bawah atau sampai 95% (tahun-tahun lalu). Beberapa KL bisa belanjakan dekati 100 persen. Ini pasti ada tambahan terhadap dampak positif dari perekonomian terutama kuartal empat,” papar Sri Mulyani.

Sri Mulyani Khawatir Laju Ekonomi Kuartal III Melambat | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

“Kuartal II tahun 2016, ekonomi kita tumbuh cukup tinggi. Untuk kuartal III barang kali lebih rendah. Tapi kami sudah lakukan langkah persiapan agar tidak menciptakan kondisi yang seolah menurun,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di kantornya, Senin (24/10).

Angka ini setara dengan target pertumbuhan ekonomi secara tahunan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar 5,1 persen.

Terkait prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III yang lebih rendah daripada kuartal II, Sri Mulyani menjelaskan, pertumbuhan ekonomi global masih menjadi momok yang menghantui ekonomi nasional.

Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun 2016 lebih rendah bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh cukup meyakinkan, 5,18 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia kokoh di angka 5,18 persen.

Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2016 berada di angka 5,04 persen. Pasalnya, pada kuartal I tahun 2016, pertumbuhan ekonomi sebesar 4,92 persen.

“Ekonomi global menjadi salah satu risiko yang membuat pelemahan di beberapa sektor ekonomi kita,” imbuh Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Namun, Sri Mulyani mengungkapkan, lesunya perdagangan komoditas tak merata di seluruh pelosok Indonesia. Pengaruh pelemahan rupanya memberi dampak yang berbeda-beda di tiap daerah.

Tak cukup pelemahan yang datang dari lesunya ekonomi global, anjloknya harga sejumlah komoditas juga memberi imbas bagi sektor perdagangan komoditas yang terpaksa ikut terseret turun.

“Komoditas yang paling terpukul adalah komoditas yang dihasilkan daerah, seperti Kalimantan. Sementara, Sulawesi masih positif. Kemudian, Jawa dan Sumatera masih sama,” jelas perempuan yang juga menjabat sebagai Menkeu di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Pasar modal masih memiliki minat, baik di domestik atau luar untuk menghasilkan dana untuk ekspansi perusahaan. Itu yang kami lakukan untuk antisipasi kuartal III dan kuartal IV,” terang Sri Mulyani.

Untuk harga komoditas yang belum bergairah, pemerintah memastikan akan melakukan indentifikasi sektor usaha untuk menjamin proses intermediasi yang dapat dilakukan lembaga keuangan bank hingga pasar modal.

Untuk diketahui, sampai akhir tahun, pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi di angka 5,1 persen. Angka ini telah dipangkas pemerintah. Pasalnya, pada APBN 2016, pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai angka 5,2 persen di akhir tahun.

Ia memastikan, hal ini telah disepakati dan akan dikejar melalui sinergi pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) secara konsisten.

Sri Mulyani Tuntut BUMN Penerima PMN Berkontribusi Lebih Besar ke Negara | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

Menteri Keuangan Sri Mulyani akan mengevaluasi kebijakan terkait pemberian suntikan dana kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN). Meski begitu, dia mengaku akan melihat kontribusi BUMN penerima PMN kepada negara.

Pemerintah, kata perempuan yang kerap disapa Ani itu, akan mengukur kemampuan BUMN dalam berkontribusi kepada negara. Kontribusi itu baik bisa berupa penyediaan infrastruktur maupun menyetor dividen kepada negara.

“Ada anggaran-anggaran seperti PMN maka BUMN-BUMN harus bisa melakukan dengan neracanya yang lebih kuat dengan adanya penyertaan modal tentunya mereka harus mampu menjalankan ekspansinya,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin (24/10/2016).

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian BUMN dan DPR menyepakati pemberian PMN dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 Rp 53,98 triliun, Jumlah BUMN yang mendapatkan suntukan dana dari negara berjumlah 24 BUMN.

“Jumlah PMN yang disetujui dari 2015-2016 itu cukup signifikan dan pasti berpengaruh kepada kegiatan BUMN terutama di sektor infrastruktur. Oleh karena itu kami perlu pantau,” kata Ani.

Berikut PMN dalam APBN-P 2016 untuk 24 perusahaa BUMN:

1. Sarana Multi Infrastruktur Rp 4,16 triliun

2. Sarana Multigriya Finansial Rp 1 triliun

3. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Rp 1 triliun

4. Perum Bulog Rp 2 triliun

5. PT Perikanan Nusantara Rp 29,4 miliar

6. PT Pertani Rp 500 miliar

7. PT Rajawali Nusantara Indonesia Rp 692,5 miliar

8. PT Angkasa Pura II Rp 2 triliun

9. PT Pelni Rp 564,8 miliar

10. PT Barata Indonesia Rp 500 miliar

11. PT Hutama Karya Rp 3 triliun

12. PT Wijaya Karya Rp 4 triliun

13. PT Pembangunan Perumahan Rp 2,25 triliun

14. Perum Perumnas Rp 485,4 miliar

15. PT Jasa Marga Rp 1,250 triliun

16. PT Industri Kereta Api Rp 1 triliun

17. PT Pelindo III Rp 1 triliun

18. PT Krakatau Steel Rp 2,456 triliun

19. PT Bahana Pembangunan Usaha Indonesia Rp 500 miliar

20. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia Rp 1 triliun

21. PT PLN Rp 23,56 triliun

22. PT Askrindo Rp 500 miliar

23. Perum Jamkrindo Rp 500 miliar

24. PT Amarta Karya Rp 32,1 miliar

Rifanfinancindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s