Uncategorized

Jokowi Bakal Gelar 11 Pertunjukan di Pesta Sumpah Pemuda

 Ada 3  panggung dalam Pesta Sumpah Pemuda | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Istana Presiden bakal menggelar 11 pertunjukan seni bertajuk “Pesta Sumpah Pemuda” pada Jumat malam, 28 Oktober 2016. Ada tiga panggung untuk menampilkan atraksi yang diadakan pada pukul 19.30-22.00 WIB itu.

geladi resik 11 pertunjukan itu sudah dilakukan sejak Kamis malam, meski tidak dihadiri Presiden langsung.

“Idenya langsung dari Presiden Joko Widodo, dipersiapkan sejak sebulan yang lalu,” ujar Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala kepada Tempo di kantornya, Kamis, 27 Oktober 2016.

Presiden, tutur Djumala, ingin merayakan Sumpah Pemuda dengan pesta karena, dalam pandangannya, Sumpah Pemuda adalah benih dari berdirinya Indonesia.

“Presiden ini orangnya nyeni banget. Passion beliau memang di situ. Sejak disampaikan pertama kali ide pesta ini, Presiden sudah ingin menonjolkan seni dan budaya untuk Sumpah Pemuda,” katanya.

Pertunjukan seni dan budaya itu dilakukan untuk memperingati 88 tahun Sumpah Pemuda.

Tanpa pernyataan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa kala itu, kata Djumala, menurut Presiden, tidak akan pernah terbentuk Indonesia. Karena itu, Sumpah Pemuda pun patut dirayakan dengan meriah.

Djumala berkata Presiden ingin menunjukkan kepada publik bahwa Istana bukan hanya sebagai institusi politik, kenegaraan, ataupun administrasi pemerintahan semata, tapi juga sebagai tempat berkembangnya kebudayaan dan peradaban Indonesia.

Istana Kepresidenan dipilih sebagai lokasi pesta karena Presiden Joko Widodo tidak ingin Istana dikenal angker.

“Kalau dipikir, orang biasanya juga melihat citra sebuah negara dari gedung pemerintahannya. Orang ke Amerika, pasti mau ke White House. Presiden ingin hal serupa di Indonesia. Makanya juga pergantian jaga sekarang terbuka untuk publik,” ucapnya.

Djumala berkata konsep seni, budaya, dan sumpah pemuda itu tertuang hampir di semua unsur pesta malam nanti. Sebagai contoh, Istana memakai desain tiga panggung, yaitu kanan, kiri, dan tengah karena Sumpah Pemuda terdiri atas tiga hal, yaitu satu nusa, bangsa, dan bahasa.

“Kalau dipikir, orang biasanya juga melihat citra sebuah negara dari gedung pemerintahannya. Orang ke Amerika, pasti mau ke White House. Presiden ingin hal serupa di Indonesia. Makanya juga pergantian jaga sekarang terbuka untuk publik,” ucapnya.

Contoh lain, pertunjukan seni yang ditampilkan akan mewakili seluruh wilayah Indonesia untuk menekankan lagi unsur satu nusa dan bangsa tersebut.

(Sumpah) Pemuda Masa Kini | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Pada 28 Oktober 1928, terbentuk bangsa (nation) Indonesia, seiiring putusan (ikrar) untuk mengikat diri kepada spirit persatuan. Satu Tanah Air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia! Sejak peristiwa tersebut, simpul-simpul kebangsaan mulai terajut kuat. Kesadaran dan komitmen rakyat untuk mendahulukan kepentingan bangsa tanpa sekat etnis, bahasa, bahkan agama, mulai tumbuh.

Menurut sejarawan JJ Rizal, 28 Oktober awalnya diperingati sebagai Hari Lahir Indonesia Raya –pada 28 Oktober 1949, “Indonesia Raya” perdana dikumandangkan. Baru pada 1950-an, proses kreasi Sumpah Pemuda mulai menjadi perayaan nasional.

Peristiwa pada 28 Oktober 1928 bukanlah momen bersejarah yang biasa-biasa saja. Seremonial pada hari itu mendapat kehormatan luar biasa dan dinyatakan sebagai satu tonggak sejarah Republik Indonesia.

Bentuk dan pola perjuangan guna memerdekakan dan memajukan Indonesia pun kian terasa solid. Akhirnya, kita membuktikan diri mampu menjadi bangsa merdeka, berdaulat, dan bermartabat, serta sederajat dengan negara-negara besar lain di dunia.

Mengadaptasi penjelasan Asvi Warman Adam (2012, hlm. 241-242), demi mencapai visi menciptakan “Persatuan Nasional” sekaligus menjawab tantangan, Soekarno menggunakan peringatan sejarah untuk menggali dan mengenalkan kembali spirit kebangsaan.

“Proyek” tersebut lantas berkait dengan pembentukan identitas (kebangsaan) Indonesia serta tema sentral perjuangan Soekarno tentang “Persatuan Nasional”. Lebih-lebih, kala itu, banyak tantangan internal berupa pemberontakan di daerah. Karenanya, pada 1956, Soekarno mengeluarkan jargon-jargon: Mereka yang mengkhianati Republik, berarti juga mengkhianati Sumpah Pemuda 1928!

Hari Sumpah Pemuda baru diperingati secara meriah sebagai hari nasional pada 1957. Ketika itu, kondisi dalam negeri tengah bergejolak. Soekarno merasa membutuhkan suatu “media dan semangat” untuk kembali menghimpun persatuan bangsa.

Lewat tulisan singkat ini, setidaknya penulis ingin menyampaikan pesan kepada dua pihak: pemerintah dan generasi muda saat ini. Membaca sejarah peringatan Hari Sumpah Pemuda –juga Hari Kebangkitan Nasional, semestinya pemerintah pandai menjadikan suatu momentum sebagai media untuk mewujudkan visi maupun menjawab tantangan.

Saat kondisi negeri membaik, ia merasa perlu “membangkitkan” negara. Lantas, dipilihlah 20 Mei sebagai peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sebelumnya, 20 Mei dikenang sebagai Hari Kebangunan Nasional. Pemilihan hari peringatan tersebut sesungguhnya bersifat politis. Namun, tentu, pemilihannya berbalik menjadi positif apabila ditujukan untuk kepentingan bangsa secara luas.

Di titik tersebut, suatu peristiwa sejarah, apalagi yang berdampak besar, selayaknya tidak sekadar diperingati lewat upacara dan pidato selama beberapa menit, melainkan memanfaatkannya sebagai gelombang untuk membawa publik di republik ini masuk ke dalam arus semangat. Dengan demikian, nilai-nilai dan semangat yang bisa diwariskan dari peristiwa itu dapat terinternalisasikan kepada khalayak.

Dus, bagi generasi muda, apapun posisinya, di titik ini sekiranya harus bisa memaknai (kembali) apa yang diamanahkan oleh satu Proklamator Kemerdekaan, Bung Hatta: “Kaum intelegensia Indonesia mempunyai tanggung jawab moril terhadap perkembangan masyarakatnya. Apakah duduk di dalam pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan lepas dari tanggung jawab itu!”

Amanah dari Bung Hatta seharusnya menjadi pedoman Revolusi Mental bagi generasi kekinian. Saatnya menumbuhkan kesadaran dan komitmen untuk menjalankan tanggung jawab moral/sosial supaya pendidikan tak melulu ditujukan untuk sekadar meningkatkan taraf kemakmuran bagi diri sendiri dan kolega.

Dalam kondisi kekinian, sebaiknya pemerintah menggunakan momentum Sumpah Pemuda sebagai media untuk menghimpun kesadaran bahwa mendahulukan persatuan dan kepentingan nasional sangatlah penting, terutama untuk konteks Pilkada Serentak 2017.

Pemuda, jangan sekali-kali mengkhianati Sumpah Pemuda. Kepentingan dan persatuan bangsa adalah utama. Jangan rusak negara ini oleh perbedaan-perbedaan dan kepentingan sempit semata. Sebab, tanpa ada pemaknaan terhadap semangat dan nilai-nilai tersebut, bukan tak mungkin kita hanya akan menjadi bagian dari sampah pemuda. Naudzubillah.

Dalam konteks kekinian, apa yang telah diamanahkan oleh Bung Hatta semestinya bisa dimaknai sebagai rem atau lonceng pengingat agar kita tidak kebablasan melakoni hidup di zaman yang serba mengedepankan kebebasan ini. Generasi penerus wajib mampu meminimalisasi dampak era yang didominasi oleh spirit kapitalisme. Jangan terperangkap dalam budaya (sikap hidup) hedonis/materialistis serta individualistis.

Dokter Muda Bicara Sumpah Pemuda: Berikan Sumbangsih Terbaik Untuk Bangsa | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Hari Sumpah Pemuda ialah peringatan kebangkitan pemuda-pemudi Indonesia dari seluruh penjuru tanah air yang membulatkan tekad bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal itu dilandasi dengan rasa cinta tanah air serta semangat persatuan dan kesatuan.

Menurut Andries, Sumpah Pemuda mengandung 3 hal pokok dan penerapannya pun dapat berbeda-beda. Poin pertama berisi bertumpah darah tanah air Indonesia.

Itulah makna Hari Sumpah Pemuda bagi dr Benediktus Andries dalam pesan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (28/10/2016). Pria yang akrab disapa Andries tersebut bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua.

Poin kedua, lanjut Andries, tentang berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia. Menurut Andries, poin tersebut saat ini perlu diberikan penekanan, karena pada poin ini terkandung penegasan bahwa Indonesia lahir dari kemajemukan dalam hal suku, ras, agama dan golongan.

“Menurut saya saat ini bentuk perjuangan kita demi tanah air kita ialah dengan berusaha sebaik mungkin memberikan sumbangsih positif bagi bangsa ini dalam bentuk apapun sesuai dengan profesi dan kemampuan kita,” ujar pria 27 tahun ini.

“Oleh sebab itu, apabila kita menghargai tanah air kita, maka tidak semestinya ada isu terkait SARA yang menjadi halangan serta memecah-belah persatuan bangsa kita, karena pada hakikatnya kita semua adalah satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia,” jelasnya.

Poin ketiga tentang menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Andries menilai hendaknya kita tidak melupakan jati diri bangsa yang memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.

“Kemerdekaan yang kita nikmati hingga saat ini adalah sebuah warisan yang dititipkan kepada kita dengan bayaran darah, keringat dan air mata dari leluhur kita yang mengedepankan persatuan dan kesatuan. Marilah kita menjalani hidup kita dengan melakukan hal yang terbaik dari apa yang kita miliki, agar kelak generasi mendatang, masih dapat melihat bahwa waktu tidaklah mengikis semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” imbaunya.

Lalu apa saran Andries untuk pemuda Indonesia terkait semangat sumpah pemuda?

“Pada saat ini tidak sedikit anak yang dididik dengan mempelajari berbagai macam bahasa daerah/asing sedari usia dini, namun apabila kita benar menghargai dan mencintai tanah air ini, hendaknya setiap warga Indonesia harus mampu terlebih dulu dalam memahami dan berbicara bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing,” tuturnya.

PT Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s