Uncategorized

Mendikbud: Hari ini Adalah Harinya Orang-orang Mulia

Pendidik menjadi penentu masa depan bangsa | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

“Hari ini adalah harinya orang-orang mulia yang menyiapkan generasi masa depan yang lebih cemerlang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mihadjir Effendy di kantor Kemdikbud, Jakarta, Jumat (25/11).

Mendikbud mengatakan, sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa. Mereka juga menanamkan semangat nasionalisme pada peserta didik dan masyarakat.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN), Jumat (25/11).

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengingatkan, peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sangat besar. Pendidik menjadi penentu masa depan bangsa.

Sehingga, Muhadjir mengatakan, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional (HGN) bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

“Perkenankan saya atas nama pribadi dan pemerintah, menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan segala ikhtiar yang telah dilakukan oleh para guru, pamong dan tenaga kependidikan,” tutur dia.

Ia menyebut, guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar. Serta, turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa.

Untuk memperingati momentum berharga ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan berbagai apresiasi terhadap dedikasi guru. Salah satu bentuk penghargaan tersebut adalah dengan diselenggarakannya upacara bendera peringatan HGN tahun 2016 dan HUT ke-71 PGRI.

Renungan Hari Guru | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Dalam telusur sejarah, organisasi tersebut mengingatkan guru-guru zaman dulu yang turut berjuang mewujudkan kemerdekaan melalui pengajaran literasi di ruang kelas maupun terlibat secara langsung dalam revolusi fisik melawan pemerintah kolonial. Ada nama Ki Hadjar Dewantara dan guru-guru Taman Siswa kukuh menggalakkan pendidikan bagi pribumi meski dicap sebagai sekolah liar oleh pemerintah kolonial. Atau Tan Malaka yang dibuang ke Belanda lantaran mendidik para kaum kromo miskin melalui sekolah Sarekat Islam pada tahun 1921.

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Memori tentang Hari Guru tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa. Meskipun baru ditetapkan tahun 1994, perjuangan guru-guru telah ada sebelum negara-bangsa ini berdiri. Sejarah mencatat, pada tahun 1912 telah ada Persatuan Guru Hindia Belanda. Dua puluh tahun kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia. Sempat dilarang pada masa Jepang, pascakemerdekaan diadakan kongres guru tanggal 25 November 1945 yang melahirkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Maka, cukup miris menyaksikan situasi para guru sekarang yang acap kali ‘dikebiri.’ Contoh, mereka jarang dilibatkan dalam merumuskan kebijakan pendidikan. Guru juga tidak independen. Sering kali mereka dan organisasinya dicampuri kepentingan politik. Padahal penting bagi guru untuk memiliki kesadaran politis yang dulu diperlihatkan Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, atau Moh Syafe’i. Menjadi guru bukan saja perkara mengajar, namun membuat sekolah sebagai suluh perubahan. Bersekolah adalah upaya membebaskan diri dari kemelaratan dan kebodohan. Sekolah demi melek aksara.

Renungan Hari Guru juga menyangkut kesadaran mereka atas pentingnya sikap belajar. Ruang kelas tidak hanya menjadi area belajar murid, tetapi juga guru untuk mereguk literasi. Teknologi dan ilmu pengetahuan terus dibarui, sehingga menuntut guru terus pula mengembangkan pengetahuan dan metode pembelajaran. Seorang guru harus menyadari bahwa pengetahuan selalu dinamis dan berkembang. Mereka harus terus belajar. Guru adalah seorang pembelajar pula.

Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan tentang materi yang didapat dari belajar dan tujuan belajar. Menurutnya, belajar untuk memerdekakan dan menjadi merdeka lahir serta batin. Manusia merdeka berarti lahir dan batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar pada kekuatan sendiri.

Lebih dari itu, guru yang baik selayaknya seorang bidan yang membantu murid-muridnya untuk dapat melahirkan pengetahuan miliknya sendiri. Hal tersebut hanya akan terjadi apabila guru memiliki sikap rendah hati dan memandang ruang kelas sebagai tempat belajar bersama. Selain itu, guru adalah tokoh dan pokok yang menjadi contoh bagi murid-murid. Untuk menjadi seorang pengajar, seseorang juga mesti tukang kasmaran belajar.

Memilih menjadi guru adalah sebuah keputusan yang menghendaki seseorang bekerja sebagai pembelajar. Di ruang kelas, guru bukan semata mengajari, melainkan juga belajar. Karena guru yang bagus bukanlah seseorang yang hanya dapat berceramah dengan baik dan menjadi sumber pengetahuan murid. Guru tidak tahu segalanya. Banyak tidak tahunya, maka perlu banyak mencari tahu. Barangkali itulah perbedaan mendasar guru dengan profesi lain. Profesi guru adalah pekerjaan yang menuntut sikap untuk terus mau belajar.

Dalam buku Teacher as Researcher (2003), Joe L Kincheloe, seorang pemikir pendidikan kenamaan Amerika mengutarakan, guru yang memiliki sikap kasmaran belajar menyediakan diri sebagai peneliti. Sama halnya seorang peneliti, guru memandang kelas sebagai laboratorium belajar. Artinya guru tidak sekadar memindahkan pengetahuan kepada para murid. Ruang kelas menjadi tempat guru berupaya memahami kebutuhan murid-murid untuk belajar.

John Dewey dalam The Source of a Science of Education (1929) menyatakan, salah satu terpenting peran seorang guru mencari tahu persoalan pendidikan dengan bertanya. Hal itu akan mengarahkan guru untuk memahami murid dan meningkatkan kapasitas dalam mengajar.

Setiap prasangka yang sesat perlu dikoreksi. Sebab anggapan murid tidak mampu atau tidak kompeten seolah mengizinkan seorang guru untuk menghilangkan kesempatan murid untuk belajar. Guru juga bisa melihatnya tidak mampu. Guru hanya melihat murid telah gagal. Sebaliknya, pandangan bahwa murid mampu belajar memungkinkan seorang guru dapat menghargai. Keyakinan bahwa murid mampu belajar dapat membuat arti pendidikan menjadi hidup dan berjiwa.

Penting bagi guru menyadari bahwa setiap anak itu unik. Setiap murid memiliki karakteristik, kemampuan, minat dan cara belajar berbeda-beda. Untuk memastikan dapat mengajar dengan baik, guru mesti benar-benar memahami siswa. Yang paling mendasar harus dimiliki guru adalah etos rasa ingin tahu. Maka bila ada murid tidak bisa, guru jangan buru-buru menghakimi. Guru justru harus menggali mencari tahu, kira-kira apa yang membuatnya tidak bisa.

Salah satu jalan untuk menjadi guru yang senang mencari tahu dengan menyediakan diri dan bersikap mendengarkan siswa. Ketika siswa tidak bisa, biarkan mengutarakan pendapat, perasaan, dan yang membuatnya kesulitan dalam belajar.

Pesan Mendikbud buat para guru: Kita menentukan masa depan bangsa | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, memimpin upacara Peringatan Hari Guru Nasional 2016 di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (25/11). Dia mengaku salut atas kinerja guru, apalagi profesi ini merupakan penentu masa depan bangsa.

Menurut dia, banyak orang sukses di dunia ini tak lepas dari peran para guru. Sehingga tidak salah bila guru merupakan sosok penting bagi kehidupan tiap manusia.

“Melalui anak-anak peserta didik di sekolah, di sanggar-sanggar belajar, kita akan menentukan masa depan bangsa,” kata Muhadjir dalam sambutannya.

Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan tinggi atas dedikasi, komitmen, dan segala ikhtiar para guru, pamong dan tenaga pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Tidak ada sosok sukses yang tidak melewati sentuhan seorang guru. Kita bisa berdiri tegak saat ini juga karena pernah ditempa oleh para guru,” ujarnya.

“Guru memiliki peran yang amat mulia dan amat strategis. Berbanggalah menjadi seorang guru. Sebab di tangan para Guru, Pamong, dan Tenaga Kependidikan, masa depan bangsa kita menjadi taruhan,” ungkapnya.

Dalam Peringatan Hari Guru Nasional ini, pihaknya juga memberikan ucapan kepada para guru seluruh Indonesia. “Saya ucapkan selamat memperingati Hari Guru Nasional tahun 2016,” terangnya.

Upacara diikuti pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, perwakilan dari PGRI dan sejumlah siswa SD, SMP dan SMA di Jakarta. Selain itu sejumlah siswa dari Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) mulai dari paket A, B dan C juga turut hadir. Adapun sebagai petugas pengibar bendera merah putih dilakukan oleh siswa-siswi Paskibraka DKI Jakarta.

Rifanfinancindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s