Uncategorized

Harga CPO Bakal Menguat Sampai Kuartal I/2017

Harga minyak kelapa sawit atau CPO kembali meningkat | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia, Rabu (14/12), harga CPO kontrak Februari 2017 naik 26 poin atau 0,84% menuju 3.124 ringgit (US$702,18) per ton.

Harga minyak kelapa sawit atau CPO kembali meningkat seiring dengan merosotnya produksi. Diperkirakan penguatan harga berlanjut sampai kuartal I/2017.

Sementara tingkat persediaan naik 5,2% mom menjadi 1,66 juta ton, di bawah estimasi survei sebesar 1,7 juta ton. Kinerja ekspor merosot 4,2% menuju 1,37 juta ton atau level terendah sejak Juni 2016.

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Rabu (14/12), produksi CPO domestik turun 6,1% (month on month/ mom) menjadi 1,57 juta ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan survei Bloomberg yang memprediksi koreksi 3% mom.

Pemulihan kondisi perkebunan di Malaysia diperkirakan membutuhkan waktu yang lebih lama. Di sisi lain, konsumsi biodiesel Indonesia – sebagai produsen CPO terbesar di dunia – bakal meningkat sehingga memberikan dorongan bullish terhadap komoditas tersebut.

Ivy Ng, regional head of plantations research CIMB Investment Bank Bhd., mengatakan harga CPO telah melonjak sekitar 26% sepanjang tahun berjalan akibat fenomena El Nino yang memukul produksi dan persediaan di Asia Tenggara.

Kelapa sawit biasanya memasuki produksi musiman yang lebih tinggi pada semester kedua antara Agustus–Oktober, sebelum kembali menurun menuju hasil panen pada kuartal pertama.

“Produksi masih lebih lemah dari yang diharapkan. Persediaan diperkirakan masih akan ketat, sehingga harga tetap menguat hingga kuartal I/2017,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/12/2016).

Mengutip pernyataan Dorab Mistry, Eksekutif Godrej International Ltd., produksi CPO Malaysia pada 2016 menjadi 17,3 juta–17,4 juta ton dari sebelumnya 17,5 juta–17,7 juta ton. Sementara produksi Indonesia akan merosot ke 29 juta ton dibandingkan 2015 sebesar 32 juta ton.

Dia memprediksi harga CPO pada Desember akan diperdagangkan dalam rentang 2.800–3.200 ringgit per ton. Namun, reli harga menghadapi tekanan dari penurunan ekspor yang mendorong naiknya persediaan.

Menurut Ng, setelah cuaca kering, industri kelapa sawit juga mengalami tantangan dari musim hujan yang mulai terasa pada November. Pasalnya, proses panen dan pengangkutan mengalami hambatan.

Berdasarkan data Intertek Testing Services, ekspor Malaysia turun 8,3% mom dalam 10 hari pertama di bulan Desember. Hal ini dipicu lesunya permintaan dari Afrika, Timur Tengah, dan China.

Harga CPO Bakal Naik Tinggi Karena Produksi Malaysia Rendah | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Analis Mandiri Sekuritas Yudha Gautama mengatakan persediaan CPO Malaysia pada November 2016 naik ke 1,66 juta ton, dari 1,57 juta ton pada Oktober 2016. Jumlah itu lebih rendah dari perkiraan yaitu 1,7 juta ton.

Yudha memprediksi persediaan CPO Malaysia masih berada di bawah 2 juta ton sebagai level psikologis hingga kuartal I 2017 karena panen yang rendah serta normalisasi impor India. Secara keseluruhan, lanjutnya, produksi CPO mencapai 15,85 juta ton atau turun 14,6 persen secara tahunan) pada sebelas bulan awal 2016.

Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) diprediksi tetap tinggi hingga 3.300 ringgit per ton karena produksi Malaysia yang lebih rendah dari perkiraan yang disebabkan lemahnya hasil panen.

“Kami memperkirakan persediaan musim panen pada kuartal-I 2017 masih rendah dan impor India mulai pulih. Kami memprediksi harga CPO diperdagangkan antara 3.100-3.300 ringgit per ton,” ujarnya dalam riset, Kamis (15/12).

Ia menjelaskan, ekspor CPO Malaysia masih lemah yaitu 1,37 juta ton pada November 2016, turun 8,6 persen secara tahunan, namun lebih tinggi dari perkiraan Bloomberg yaitu 1,28 juta ton. Hal ini didorong oleh kebijakan India yaitu larangan mata uang, tetapi didukung lebih tinggi oleh impor China yang naik 35,8 persen secara tahunan.

“Berdasarkan tren sejarah, kami prediksi penurunan produksi akan berlanjut secara bulanan hingga kuartal I 2017, in-line dengan musim produksi yang rendah,” ungkapnya.

Sementara, pada November 2016 harga kedelai naik sebesar 4,9 persen. Kenaikan ini diprediksi karena kuota biofuel yang lebih tinggi ditetapkan oleh Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak mentah karena pemangkasan produksi oleh OPEC.

“Kami prediksikan pada Desember 2016 ekspor masih lemah akibat larangan mata uang India,” imbuhnya.

Harga Sawit Diprediksi Naik Terpicu Momen Natal dan Tahun Baru | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik seiring lonjakan permintaan saat momen Natal dan Tahun Baru 2017.

Gapki memperkirakan harga CPO global sepanjang Desember akan bergerak di kisaran US$ 750—US$ 800 per metrik ton.

“Prospek kenaikan harga diperkirakan masih akan terjadi karena jelang hari raya Natal dan Tahun Baru,” ujar Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan seperti dikutip Kamis (15/12/2016).

Sementara itu harga sepanjang November bergerak di kisaran US$ 722,5 sampai US$ 780 per metrik ton.

Adapun, harga sawit sepanjang Oktober bergerak di kisaran US$ 690 sampai US$ 755 per metrik ton, dengan harga rata-rata sebesar US$ 722 per metrik ton.

Gapki juga melaporkan ekspor minyak sawit nasional dan turunannya termasuk biodiesel dan oleochemical meningkat 34 persen pada Oktober dibandingkan dengan September. Ekspor naik dari 1,89 juta ton menjadi 2,54 juta ton.

Sementara itu, pemerintah telah menetapkan pengenaan bea keluar nol pada Desember karena harga rata-rata CPO berada di bawah batas bawah aturan pengenaan bea keluar yaitu US$ 750 per metrik ton.

Adapun produksi minyak sawit Indonesia naik 6,5 persen menjadi 3,55 juta ton pada Oktober dibandingkan bulan sebelumnya.

“Ekspor minyak sawit Indonesia terkerek karena adanya peningkatan permintaan dari hampir semua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia kecuali Amerika Serikat dan Pakistan,” jelas dia.

Menurut dia, ekspor CPO nasional bisa naik karena para pedagang mengambil kesempatan untuk membeli pada saat harga sedang melemah dan mengantisipasi kenaikan harga pada bulan berikutnya, seiring lonjakan permintaan jelang hari raya Natal dan Tahun Baru.

Adapun secara persentase ekspor ke negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Bangladesh meningkat sangat signifikan, dimana masing-masing membukukan kenaikan 147 persen, 154 persen dan 117 persen.

Stok minyak sawit Indonesia pada Oktober 2016 tercatat sebanyak 2,18 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan 0,4 persen dibandingkan September, yang sebesar 2,17 juta ton.

“Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia pada November diperkirakan mulai menurun karena memasuki seasonal turun,” dia menambahkan.

Kenaikan permintaan juga diikuti China yang membukukan kenaikan 32 persen atau dari 239,42 ribu ton menjadi 316,45 ribu ton dan India mencatatkan kenaikan 32 persen juga yaitu dari 462,23 ribu ton menjadi 608,51 ribu ton.

Kenaikan yang cukup signifikan secara volume dibukukan negara-negara Uni Eropa yaitu 163,57 ribu ton (naik 75,5 persen) atau dari 216,59 ribu ton pada September terkerek menjadi 380,15 ribu ton pada Oktober.

PT Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s