Uncategorized

Jelang Pilkada, Premi Asuransi Terorisme Meroket jadi Rp7 M

Realisasi per September 2016 sebesar Rp3,5 miliar | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Jelang penyelenggaraan pemilihan kepala daerah tahun depan, premi asuransi terorisme dan sabotase diprediksi mencapai Rp7 miliar. Nilai ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan proyeksi akhir tahun Rp7 miliar.

Sebagai gambaran, premi asuransi terorisme dan sabotase pada 2011 silam mencapai Rp6,98 miliar. Kemudian, menjadi Rp6,09 miliar pada 2012, Rp6,53 miliar pada 2013, Rp6,58 miliar pada 2014, dan Rp5,58 miliar pada akhir tahun lalu.

“Biasanya ketika ada kejadian, ramai-ramai masyarakat beli. Kalau sepi-sepi ya tidak beli. Tetapi, tahun depan ada peristiwa politik, pilkada serentak,” terang Robby Loho, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase, Kamis (22/12).

Adapun, Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase beranggotakan 52 perusahaan asuransi kerugian dan empat perusahaan reasuransi. Seluruh anggota menyertakan modal sesuai kemampuan masing-masing yang dihitung sebagai kapasitas bersama.

“Tahun ini, kapasitas konsorsium mencapai US$10,83 juta atau setara Rp140,81 miliar. Naik dari kapasitas tahun lalu yang sebesar Rp125 miliar. Namun, kenaikan tersebut karena selisih mata uang dolar AS yang menguat terhadap rupiah,” ujarnya.

Tahun ini, Robby memperkirakan, premi yang dihimpun dari asuransi terorisme dan sabotase mencapai Rp7 miliar, dengan realisasi per September 2016 sebesar Rp3,5 miliar.

Kalau kapasitasnya bisa lebih besar, lanjut Arizal E R, Ketua Komite Teknik Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase, premi yang dihimpun juga bisa lebih besar. Sayang, kapasitas yang ada saat ini sesuai kantong masing-masing perusahaan asuransi.

Adapun, hingga saat ini, konsorsium belum pernah menerima klaim. Klaimnya tercatat nol. Tak heran dana jaminan konsorsium tembus Rp1,30 miliar, dengan total investasi Rp46,65 miliar yang merupakan akumulasi dari dana jaminan sejak konsorsium terbentuk.

“Kalau ada aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menempatkan kapasitas asuransi pertanggungan di dalam negeri untuk asuransi terorisme, premi yang kami dapatkan bisa dua kali lipat. Di pasar, ada Rp50 miliar-Rp60 miliar potensi bisnisnya, tetapi kan kami juga lihat kapasitas kami belum mampu,” imbuhnya.

Tarif Mahal, Asuransi Terorisme Kurang Peminat | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase mengakui salah satu faktor yang menghambat laju bisnis perlindungan risiko khusus terorisme tak lain lantaran mahalnya tarif yang dipungut.

“Tarif kami mungkin memang kurang bersaing. Hal ini dikarenakan kami tidak memiliki pengalaman klaim. Kami menentukan tarif berdasarkan data-data pasar, memang jadi lebih tinggi dari pasar,” ujar Arizal ER, Ketua Komite Teknik Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase, Kamis (22/12).

Misalnya, untuk menjamin risiko terorisme dan sabotase di bandara, bangunan publik, kelab malam, pusat perbelanjaan tarif yang dipatok 0,75 persen per mil. Tarif ini jauh lebih mahal dari harga pasarannya yang sebesar 0,50 persen per mil.

Produk ini juga tidak bersifat wajib. Artinya, perusahaan asuransi hanya menawarkan produk asuransi terorisme sebagai pertanggungan tambahan.

Selain itu, sambung dia, tarif mahal asuransi terorisme lantaran produk ini tergolong dalam risiko khusus. Artinya, produk ini cuma perluasan dari produk yang ada, misalnya asuransi properti dan kendaraan bermotor.

Robby Loho, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase sekaligus Direktur Utama PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk menuturkan, konsorsium berencana untuk merevisi tarif agar lebih bersaing di pasar.

“Kalau sekarang tarifnya kami turunkan, bisnis tidak ada yang baru. Itu-itu saja. Polis sekitar 1.180an. Pendapatan kami pasti tergerus. Nah, ini yang kami usulkan ke OJK, peraturan terkait, sehingga tarif bisa kami revisi turun,” imbuhnya.

Harap maklum, lanjutnya, bisnis asuransi terorisme relatif adem ayem. Hanya diburu masyarakat ketika peristiwa terorisme sedang ramai dan dilupakan seketika ketika kondisi relatif aman.

“Dengan catatan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung melalui peraturan, misalnya dengan menjadikan asuransi terorisme sebagai perluasan produk yang masuk di lini asuransi harta benda, termasuk kewajiban mengoptimalkan kapasitas di dalam negeri,” jelas Robby.

Mengenal Asuransi Terorisme Sebagai Risiko Khusus | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Aksi teror World Trade Centre di Amerika Serikat, 15 tahun silam, membuat pelaku usaha asuransi di dunia mengecualikan risiko terorisme dan sabotase dalam proteksi harta benda. Perusahaan asuransi kerugian di Indonesia juga ikut menerapkan hal serupa.

Robby Loho, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase menerangkan, tidak seperti produk asuransi kerugian pada umumnya, produk asuransi terorisme dan sabotase adalah produk asuransi dengan risiko khusus.

Namun, setelah 15 tahun menawarkan produk asuransi terorisme dan sabotase, perkembangan bisnis ini suam-suam kuku. Mengapa?

Sederhananya, produk ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan menjadi sampingan dari produk-produk utama di lini asuransi kerugian, seperti asuransi harta benda yang ditambah dengan risiko khusus terorisme dan sabotase. Risiko husus ini juga bisa menempel dengan asuransi kendaraan bermotor.

Karena sifatnya yang tidak umum itulah, pamor asuransi terorisme dan sabotase kurang terdengar. Padahal, melihat kondisi akhir-akhir ini, bukan cuma gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan pertokokan saja yang menjadi sasaran teror, tetapi juga perumahan penduduk.

“Produk asuransi terorisme dan sabotase menjamin kerusakan pada harta benda yang dikarenakan risiko terorisme, sabotase, makar dan pencegahan sehubungan dengan risiko-risiko tersebut. Produk ini menjamin apa yang tidak dijamin oleh risiko lain,” ujar Robby, Kamis (22/12).

Misalnya, apabila sebuah gedung perkantoran atau perbelanjaan terdampak serangan teror yang mengakibatkan kerusakan, maka perusahaan asuransi tidak akan menanggung klaimnya. Lain soal kalau gedung atau pusat perbelanjaan tersebut diasuransikan dengan asuransi terorisme dan sabotase dalam asuransi harta bendanya.

Namun, meski ramai ancaman teror, belum banyak masyarakat yang memanfaatkan perlindungan ini. Arizal E R, Ketua Komite Teknik Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase mengatakan, ada dua faktor utama yang menghambat perkembangan bisnis tersebut.

Pertama, kapasitas pertanggungan asuransi terorisme dan sabotase masih mini. Melalui konsorsium yang beranggotakan 52 perusahaan asuransi kerugian dan empat perusahaan reasuransi saja, kapasitas yang mampu ditampung untuk satu kali kejadian cuma US$10,8 juta atau setara Rp140,81 miliar.

“Kapasitas pertanggungan asuransi konsorsium kecil karena memang seluruh anggota tanggung renteng melalui penyertaan saham sesuai kemampuan masing-masing. Kami tidak bisa memaksa, kami cuma membatasi penyertaan saham minimum US$25 ribu atau Rp325 juta per anggota,” jelasnya.

Arizal menyebutkan, kapasitas pertanggungan asuransi Rp140,81 miliar itu setara dengan satu gedung hotel kelas skala medium. Bahkan, pertanggungan untuk gedung hotel bintang lima saja diperkirakan mencapai US$50 juta.

Kedua, sambung Arizal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator belum mewajibkan optimalisasi penempatan kapasitas di dalam negeri untuk asuransi terorisme dan sabotase. Hal ini mengakibatkan banyak premi juga melayang ke perusahaan reasuransi luar negeri.

Makanya, Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase mengusulkan terbitnya Peraturan OJK (POJK) yang mengatur beberapa poin aturan main. Seperti, kewajiban pemenuhan kapasitas di dalam negeri, serta perluasan risiko terorisme dan sabotase dalam asuransi harta benda.

“Karenanya, tarif kami mungkin memang kurang bersaing. Apalagi, kami tidak memiliki pengalaman klaim. Dibandingkan dengan tarif pasar, harga kami memang di atas rata-rata. Kami mau revisi turun tarifnya, kalau bisnisnya ada. Perosalannya, bisnis tidak ada yang baru,” imbuhnya.

Robby menuturkan, dari 83 anggota AAUI, cuma 56 di antaranya saja yang urun rembuk dalam konsorsium. Sekitar 21 perusahaan asuransi lain emoh menjual produk asuransi terorisme dan sabotase, dan enam lainnya memilih bermain sendiri.

Karena persoalan kapasitas yang kecil itu, enam perusahaan asuransi kerugian yang tergabung dalam anggota AAUI enggan bergabung di dalam Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase. Mereka memilih bermain sendiri dengan dukungan dari kelompok usaha mereka yang raksasa di luar negeri.

Adapun, Arizal memproyeksi, kapasitas konsorsium tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan tahun ini yang sebesar Rp140 miliar. Tahun lalu, kapasitas konsorsium sebesar Rp125 miliar. Kenaikan ini pun tak terlepas karena selisih kurs mata uang asing yang menguat dibanding rupiah.

“Kami imbau sih semua ikut ya untuk memperbesar kapasitas, tetapi ya kan ada perusahaan asuransi yang mau main sendiri sama grup mereka di luar negeri. Ada juga yang merasa memiliki koneksi sendiri dengan reasuransi luar negeri,” katanya.

Rifanfinancindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s