PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Utang terus bertambah, pemerintah dinilai kehilangan akal

Kementerian Keuangan dinilai kurang kredibel dalam mengelola fiskal | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan menyebut saat ini total utang Indonesia sudah mencapai Rp2.707,81 triliun. Sementara utang lainnya sebanyak Rp731,98 triliun.

Hal itu dikarenakan Kementerian Keuangan dinilai kurang kredibel dalam mengelola fiskal tahun ini. Sebab, kebijakan pemerintah pada saat menghadapi masalah fiskal selalu direspons dengan kebijakan utang baru. Bisa dilihat SBN semakin menggemuk.

“Kami sangat prihatin dengan cara-cara pemerintah mengelola fiskal. Kelihatannya pemerintah sudah kehilangan akal dalam menyehatkan fiskal selain dengan jalan menumpuk utang. Bukannya justru menyehatkan, cara-cara yang ditempuh pemerintah itu justru sedang menjerumuskan bangsa ini kepada ancaman guncangan keuangan. Kasarnya, pemerintah gali lobang untuk tutup lobang,” kata Heri

Yang paling miris, dari struktur kepemilikan SBN domestik yang diperdagangkan (tradable), tren kepemilikan asing terhadap surat utang pemerintah cenderung meningkat. Pada 2011, porsi kepemilikan asing masih 30,5 persen, dan kemudian per September 2016 melonjak menjadi 39,2 persen atau baik hampir 10%.

“Risikonya adalah adanya ancaman pembalikan dana secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar (sudden reversal) yang dapat berdampak sistemik, sehingga pasti menekan kestabilan perekonomian nasional,” ujar politisi Partai Gerindra itu.

Gemuknya SBN untuk membiayai defisit semakin memberi ancaman baru. Kontribusi SBN terhadap total pembiayaan utang rata-rata mencapai 101,8 persen per tahun. Sedangkan terhadap total pembiayaan anggaran mencapai 103,3 persen per tahun (RAPBN 2017).

“Kecanduan yang berlebih terhadap SBN tersebut sudah pasti akan meningkatkan risiko fiskal,” kata Heri.

Hal lain yang juga menyedihkan adalah pembayaran bunga utang telah mencapai Rp 221,2 triliun pada tahun 2017. Artinya telah terjadi kenaikan 15,8 persen dari target APBNP 2016 sebesar Rp 191,2 triliun. Jumlah itu setara dengan 40 persen alokasi belanja non K/L. Dengan begitu, maka sepertinya kita tidak bisa berharap banyak untuk pencapaian program pencapaian kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi riil dari cara-cara pengelolaan fiskal seperti itu.

“Buktinya, uang hanya habis untuk membayar utang yang semakin bertumpuk,” sebutnya.

Selain itu, agresifitas penerbitan SBN dapat memicu perang suku bunga perbankan dan pengetatan likuiditas. Akibatnya, perbankan akan tetap menawarkan suku bunga deposito di level yang tinggi meski suku bunga acuan terus diturunkan.

“Kondisi itu pada akhirnya berujung pada suku bunga kredit yang tetap bertengger di angka double digit. Akibatnya, likuiditas makin sempit dan akhirnya ekonomi riil semakin berat untuk berkembang, disamping menurunnya daya beli,” kata dia.

Ia berharap pemerintah ini bisa menghadirkan solusi atas jeratan defisit anggaran yang makin mengangga lewat kebijakan fiskal yang kredibel. Ironisnya, dalam kurun lima tahun terakhir, realisasi defisit anggaran cenderung meningkat.

“Yang paling mengkhwatirkan, dengan melihat realisasi fiskal sepanjang 2016 ini, diperkirakan defisit akan meningkat menjadi 2,7 persen terhadap PDB. Ini adalah tragedi bagi keuangan nasional kita,” sebutnya.

Penyebabnya, rata-rata realisasi belanja tumbuh di kisaran 5 persen, sementara realisasi pendapatan negara hanya tumbuh kisaran 3 persen. Bahkan defisit APBNP 2015 melonjak melebihi target yaitu mencapai 2,59 persen terhadap PDB. Pada APBNP 2016 pemerintah kembali menargetkan defisit anggaran sebesar 2,35 persen. Bahkan, pada APBN 2017, Pemerintah kembali menaikkan defisit anggaran sebesar 12,9 persen menjadi Rp 330,2 triliun atau mencapai 2,41 persen PDB.

Tren Asing di SBN Semakin Meningkat | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Jika dilihat dari struktur kepemilikan SBN domestik yang diperdagangkan (tradable), tren kepemilikan asing terhadap surat utang pemerintah cenderung meningkat dari 30,5 persen pada 2011 menjadi 39,2 persen pada September 2016.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imaduddin Abdullah menilai besarnya porsi asing dalam Surat Berharga Negara (SBN), sangat rentan bagi perekonomian domestik.

Imaduddin menuturkan, pada 2016, permasalahan kredibilitas fiskal kembali menjadi permasalahan utama pada sisi fiskal, terutama dari sisi target penerimaan. Pemerintah tidak belajar dari tahun sebelumnya sehingga merevisi ke bawah target penerimaan pada APBN-P menjadi Rp1.786,2 triliun atau 16,3 persen dari realisasi 2016.

Di satu sisi, menurut Imaduddin, besarnya porsi asing tersebut mengindikasikan kepercayaan investor asing terhadap kondisi fundamental perekonomian domestik.

“Namun, besarnya kepemilikan asing tersebut sangat rentan terhadap risiko terjadinya pembalikan dana secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar (sudden reversal) yang dapat berdampak sistemik dan semakin menekan kestabilan perekonomian,” ujar Imaduddin dikutip dari Antara, Kamis (29/12/2016).

Salah satu implikasi dari tidak cermatnya kalkulasi penerimaan tersebut yakni ancaman defisit utang yang membuat pemerintah “berlomba” menerbitkan surat utang, yang justru memicu perang suku bunga dengan perbankan.

“SBN cenderung lebih fleksibel dibandingkan dengan pinjaman, namun hal ini menimbulkan moral hazard jebakan moral) dan juga memberikan implikasi negatif seperti perang suku bunga dan ketergantungan SBN yang tinggi,” ujar Imaduddin.

Untuk membiayai defisit APBN, pemerintah seolah “kecanduan”dengan terus mengeluarkan SBN sehingga dalam dua tahun terakhir nilainya terus melonjak. Utang pemerintah pada 2016 mencapai Rp2.707,81 triliun, meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya Rp1.931,22 triliun.

Pengelolaan Fiskal Tak Kredibel, RI Makin Kecanduan Utang | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Kinerja pemerintah dalam mengelola fiskal dinilai tidak kredibel, dimulai dari tidak kredibelnya penetapan target penerimaan negara hingga ancaman utang yang cenderung permanen. Implikasi penting dari tidak kredibelnya pengelolaan fiskal adalah defisit anggaran yang meningkat sehingga membuat ancaman defisit utang kian tinggi.

Berdasarkan data INDEF, hingga Oktober 2016, defisit anggaran sudah mencapai 268,3 triliun rupiah atau 90,4 persen dari target APBN-P. Hingga akhir tahun, defisit diperkirakan akan meningkat menjadi 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Ironisnya, kata Imaduddin, SBN yang menjadi andalan pemerintah menutup defisit justru diserbu asing.

Pemerintah pun akhirnya semakin ketagihan utang, mengambil cara instan dengan menerbitkan surat berharga negara (SBN) untuk menambal defisit anggaran. “INDEF melihat kredibilitas pemerintah dalam mengelola fiskal semakin dipertanyakan,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, di Jakarta, Kamis (29/12).

Bahkan, tren kepemilikan asing terhadap SBN sejak lima tahun terakhir meningkat. Pada 2011, pemodal asing memiliki 30 persen SBN, sedangkan perbankan hanya berbeda tipis yakni 33,9 persen. Per September 2016, porsi asing pada SBN bertambah menjadi 39,2 persen, sementara perbankkan hanya 21,07 persen.

“Dampaknya ketika asing tiba-tiba menjual SBN itu, guncangan di sektor keuangan sudah pasti akan terjadi. Apalagi memang gencarnya SBN ini sudah menggerus suku bunga perbankan. Sehingga perang suku bunga ini tak bisa lagi dihindarkan,” ujar Imaduddin.

“Di satu sisi, besarnya minat asing mengindikasikan kepercayaan investor asing terhadap kondisi fundamental perekonomian domestik,” ujar dia. Di sisi lain, Imaduddin mengingatkan hal itu sangat rentan terhadap risiko terjadinya pembalikan dana secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar (sudden reversal). Ini akan berdampak sistemik dan menekan kestabilan ekonomi dalam negeri.

Dalam dua tahun terakhir, kata dia, outstanding SBN terus naik hingga saat ini totalnya mencapai 2.707,81 triliun rupiah. Sementara utang lainnya sebesar 731,98 triliun rupiah. Jumlah utang yang hampir 3.500 triliun rupiah itu selalu diklaim pemerintah masih rendah.

Ia memaparkan selain pengelolaan fiskal yang tidak kredibel, catatan lain INDEF mengenai kebijakan fiskal 2016 adalah program tax amnesty yang belum berjalan sesuai dengan harapan awal, dan fiskal daerah tidak optimal dalam membangun ekonomi daerah dan mengurai ketimpangan spasial.

“Karena dalih pemerintah itu melihatnya ke rasio utang terhadap PDB yang katanya masih rendah dibanding negara lain. Memang rasionya masih 28 persen. Namun jika dilihat dari trennya pemerintah itu sudah ketagihan utang,” tegas Imaduddin.

Bunga obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun saat ini mencapai 7,9 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan instrumen sejenis dari Thailand, Malaysia, dan Vietnam. (lihat infografis) Bhima juga mengungkapkan selama ini terjadi kondisi tidak akur antara kebijakan fiskal dan moneter sehingga mengakibatkan perbankan saling berebut dana, pada akhirnya cost of fund perbankan masih mahal.

“Pemerintah perlu berkoordinasi dengan sektor perbankan untuk mengatur waktu penerbitan SBN agar perang perebutan likuiditas dapat diminimalisir. Diharapkan biaya penghimpunan dana atau cost of fund menjadi berkurang,” kata Bhima

Peneliti INDEF, Bhima Yudhistira, menambahkan di tengah meningkatnya kebutuhan utang pemerintah melalui penerbitan SBN ada ancaman eksternal yang patut jadi perhatian yaitu efek kenaikan suku bunga The Fed yang membuat bunga surat utang beberapa negara terpaksa dinaikkan. Salah satu tujuannya untuk menahan penjualan bersih asing di pasar surat utang.

“Hal ini menambah beban bagi anggaran pemerintah dalam pembayaran bunga surat utang, terlebih tingkat bunga obligasi pemerintah Indonesia sudah terbilang tinggi dibanding negara berkembang lainnya,” jelas dia.

PT Rifan Financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s