PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Saham margin diperluas, simak kriterianya

Ada 3 pokok perubahan aturan margin | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera menerbitkan aturan baru mengenai transaksi saham margin. Saham margin yang tadinya hanya terbatas sekitar 57 saham, akan diperluas menjadi 179 saham. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang memfinalisasi persetujuan usulan BEI yang merevisi peraturan BEI terkait dengan pembiayaan margin.

Ada 3 pokok perubahan aturan margin yang ada di dalam revisi Peraturan BEI nomor III-I. Pertama adalah pengelompokan anggota bursa (AB) menjadi dua kategori berdasarkan nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) yakni AB yang memiliki nilai MKBD sebesar Rp 250 miliar atau lebih akan dapat melakukan transaksi margin atas efek margin yang telah direlaksasi.

Dua peraturan BEI yang akan direvisi adalah Peraturan BEI nomor II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek dalam Transaksi Marjin dan Transaksi Short Selling, serta nomor III-I tentang Keanggotaan Margin dan/atau Short Selling.

Kategori AB selanjutnya adalah AB dengan nilai MKBD kurang dari Rp 250 miliar nantinya hanya dapat melakukan transaksi margin atas efek margin yang masuk dalam daftar Indeks LQ-45.

Pokok perubahan yang ketiga adalah adanya sanksi pencabutan surat persetujuan melakukan transaksi margin dan/atau transaksi short selling apabila tidak memenuhi kewajiban sebagai Anggota Bursa Efek Margin dan/atau Short Selling.

Kedua, terdapat penambahan pengaturan baru yang selama ini tidak ada ketentuan baku sehingga menyulitkan pelaku dalam bertransaksi margin. Contohnya, pengaturan tentang pengambilalihan (take over) kewajiban nasabah atas transaksi margin oleh AB margin lainnya, larangan memberikan pinjaman dana kepada nasabah bukan untuk penyelesaian transaksi margin (overdraft), dan larangan melakukan perpindahan piutang nasabah dari rekening Efek reguler ke Rekening Efek Pembiayaan Transaksi Margin pada AB yang sama.

Alpino Kianjaya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI menjelaskan, beberapa kriteria saham margin yang diubah di antaranya adalah soal valuasi saham. Sebelumnya, suatu efek bisa masuk dalam daftar efek margin apabila memiliki price earning ratio (PER) tidak lebih dari tiga kali PER pasar.

Sedangkan dua pokok perubahan yang termuat dalam revisi aturan II-H adalah perubahan kriteria efek margin sehingga memungkinkan bertambahnya jumlah saham yang dapat ditransaksikan dalam transaksi margin.

Selain itu, ketentuan soal jumlah pemegang saham sekurang-kurangnya 600 pemegang saham berdasarkan data akhir bulan selama periode data review, akan direlaksasi menjadi 300 pemegang saham.

“Nah, dengan ketentuan baru ini, meski PER saham sudah lebih dari tiga kali pasar, namun jika nilai Price to Book Value (PBV) belum mencapai tiga kali PBV market, maka masih bisa masuk sebagai saham margin,” ujarnya di Jakarta, Senin (16/1).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, perubahan aturan ini dilakukan karena banyak terjadi penalangan atau pembiayaan oleh AB terhadap nasabahnya untuk saham-saham yang tidak masuk dalam kriteria margin. “Dengan adanya relaksasi margin, diharapkan dapat meningkatkan nilai transaksi saham AB dan dapat meningkatkan nilai permodalan anggota bursa,” ujar Nurhaida.

Padahal outstanding pembiayaan di luar saham-saham yang tergolong ke dalam kriteria saham margin yang dilakukan oleh AB jumlahnya mencapai Rp 4,3 triliun. Dari jumlah tersebut, 77% di antaranya atau sekitar Rp 3,3 triliun dilakukan oleh 19 AB yang memiliki MKBD di atas Rp 250 miliar. OJK dan BEI berharap aturan ini bisa terbit pada awal bulan Februari mendatang.

Per 28 Desember 2016 nilai outstanding pembiayaan margin masih relatif kecil yakni sebesar Rp 1,8 triliun. Sebanyak Rp 1,3 triliun atau 72% dari jumlah tersebut dilakukan oleh 18 anggota bursa yang memiliki MKBD di atas Rp 250 miliar.

Revisi Aturan Marjin Akan Dorong AB Tingkatkan MKBD | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Senin (16/1) mengatakan, proses revisi atas peraturan BEI terkait pembiayaan dan penambahan daftar efek marjin sedang dalam proses finalisasi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Saya percaya revisi aturan marjin akan mendorong jumlah perusahaan sekuritas untuk menaikkan MKDB, karena mereka ingin melakukan transaksi marjin,” ujarnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai revisi aturan transaksi marjin akan mendorong perusahaan sekuritas atau anggota bursa (AB) untuk meningkatkan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD).

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga akan menambah jumlah daftar efek marjin menjadi sekitar 180-200 efek yang dapat ditransaksikan secara marjin yang kemungkinan akan dirilis pada Februari 2017 mendatang.

“Jadi dapat dibayangkan relaksasi marjinnya, dananya dapat bertambah, minat transaksi marjin juga akan turut akan naik,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa BEI bersama dengan self regulatory organizatin (SRO) pasar modal telah mendirikan PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI), perusahaan itu akan meminjamkan dana sekitar 40 persen dari MKBD perusahaan sekuritas sebesar Rp100 miliar.

“Namun, hanya AB yang memiliki MKBD Rp250 miliar yang bisa mendapatkan fasilitas pinjaman dana marjin dari PEI. Di catatan kami sudah ada 28 perusahaan efek yang MKBD-nya sudah di atas Rp250 miliar,” katanya.

“MKBD kita memang belum besar, bahkan di Asia Tenggara termasuk yang paling kecil. Dengan relaksasi peraturan itu, saya percaya jumlah perusahaan efek yang akan menaikkan MKDB bertambah karena mereka mau transaksi marjin,” ujarnya.

Menurut Tito Sulistio, dengan MKBD Anggota Bursa yang besar maka akan memperkuat perannya di industri pasar modal sehingga dapat bersaing di regional.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida mengemukakan bahwa terdapat tiga pokok perubahan aturan marjin yang ada di dalam revisi Peraturan BEI III-I. Pertama mengelompokan AB menjadi dua kategori berdasarkan nilai MKBD yakni AB dengan MKBD sebesar Rp250 miliar atau lebih dapat melakukan transaksi marjin yang telah direlaksasi, sementara AB dengan MKBD di bawah Rp250 miliar hanya dapat melakukan transaksi marjin yang masuk dalam daftar efek indeks LQ45.

Nurhaida juga mengemukakan bahwa pokok perubahan dalam revisi peraturan BEI II-H yakni mengenai perubahan kriteria efek marjin sehingga memungkinan bertambahnya jumlah saham yang dapat ditransaksikan dalam transaksi marjin.

Kedua, lanjut dia, penambahan pengaturan baru yang selama ini tidak ada ketentuan baku sehingga menyulitkan pelaku dalam bertransaksi marjin. Sedangkan pokok perubahan yang ketiga mengenai sanksi Pencabutan Surat Persetujuan Melakukan Transaksi Marjin dan Transaksi Short Selling apabila tidak memenuhi kewajibannya.

Kucurkan Pinjaman ke Broker Efek, PEI Siapkan Rp 4 Triliun | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Bandung

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, nilai outstanding pembiayaan margin per 28 Desember 2016 masih relatif kecil, yakni sebesar Rp 1,8 triliun.

Untuk dapat meningkatkan transaksi jual-beli saham di pasar modal, BEI bersama dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) telah mendirikan PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI).

“Sebanyak 1,3 triliun atau 72% dari jumlah tersebut dilakukan oleh 18 Anggota Bursa (AB) yang memiliki Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) di atas Rp 250 miliar,” ungkap Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Gedung BEI, Jakarta, Senin (16/1/2017).

Melalui PEI, nantinya setiap perusahaan AB yang memiliki MKBD di atas Rp 250 miliar, akan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 100 miliar. PEI sendiri telah menyiapkan dana pinjaman sebesar Rp 4 triliun untuk memberikan bantuan tersebut.

Berdasarkan data per tanggal 12 Januari 2017, dari sebanyak 105 AB aktif di BEI, yang memiliki nilai MKBD Rp 250 miliar atau lebih sebanyak 28 AB dengan 18 AB di antaranya memiliki izin margin. Sedangkan 77 AB memiliki MKBD kurang dari Rp 250 miliar dengan 50 AB di antaranya memiliki izin margin.

“Kami punya target di semester 1 untuk securities financing, yaitu PT PEI. Kita menyiapkan dana Rp 4 triliun/tahun untuk AB yang MKBD nya di atas Rp 250 triliun, nanti setiap perusahaan dapat (pinjaman) Rp 100 miliar,” ungkap Tito.

Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s