PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Dampak Kurang Eratnya Ekonomi AS-Tiongkok bagi Indonesia Minim

Kebijakan negara tersebut tak akan menganggu kinerja ekspor dari Indonesia | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Bank Indonesia (BI) menilai kurang eratnya hubungan ekonomi yang akan timbul dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Tiongkok maka dampaknya tidak akan besar bagi ekonomi Indonesia. Pasalnya, ekonomi Indonesia disebut tidak memiliki hubungan langsung dari kebijakan yang diambil oleh kedua negara.

Bahkan, Juda mengakui, jika dampak yang ditimbulkan dari pembatasan produk Tiongkok ke AS bagi Indonesia tak sebesar negara lain. Menurut dia, ekspor Indonesia ke Tiongkok lebih banyak dimanfaatkan bagi produksi yang dikonsumsi oleh Tiongkok sendiri.

“Tadi saya sampaikan bahwa dampak langsung kebijakan Trump terhadap dagang Indonesia itu tidak besar tapi lewat Tiongkok (bisa saja berdampak),” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung, di Pullman Hotel, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2017).

“Tapi kalau lihat dampak lewat Tiongkok pun tidak sebesar negara lain. Karena ekspor kita ke Tiongkok yang diekspor ke Amerika Serikat itu tidak terlalu besar. Ekspor kita ke Tiongkok itu banyak digunakan di Tiongkok saja,” jelas dia.

“Jadi kita tidak masuk ke dalam supply chain Tiongkok. Misal produk Apple, kita tidak masuk ke global value chain-nya Tiongkok. Sementara negara lain itu banyak produksi barang antara yang memproduksi barang ke Tiongkok,” pungkasnya.

Dirinya menambahkan, ekspor negara lain ke Tiongkok banyak yang diekspor kembali ke AS. Sementara bagi Indonesia, Juda menegaskan, hal itu sangat sedikit sehingga tak akan menganggu kinerja ekspor dari Indonesia.

Jaga Stabilitas, Dukung Pemulihan Ekonomi | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

NEW year brings new hope for economy. Tahun baru membawa harapan baru. Pernyataan tersebut bukanlah sekadar isapan jempol, apalagi omong kosong.

Hal ini ditopang oleh revisi ke atas ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi 2,3% dan ekonomi Tiongkok menjadi 6,5%. Beberapa indikator makroekonomi dari Negeri Paman Sam, seperti konsumsi dan investasi nonresidensial, menunjukkan peningkatan.

Tengok saja perkembangan ekonomi global yang menunjukkan berbagai indikasi perbaikan. Ekonomi dunia yang diperkirakan tumbuh 3,1% pada 2016 lalu, tahun ini direvisi ke atas dari 3,2% menjadi 3,4%.

Harapan baru juga datang dari pasar komoditas. Lihat saja harga komoditas-komoditas dunia yang memberikan harapan baru yang lebih baik. Harga batubara serta komoditas nonenergi tembaga dan timah meningkat dari proyeksi semula. Kenaikan harga logam diperkirakan berlanjut akibat perbaikan ekonomi Tiongkok dan dampak kebijakan infrastruktur Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, tingkat pengangguran mereka juga berada pada level yang rendah dengan inflasi yang mengarah ke target jangka panjangnya. Di belahan dunia lain, Negeri Tirai Bambu pertumbuhannya juga membaik. Hal ini tercermin dari meningkatnya penjualan eceran dan investasi swasta. Perbaikan prospek ekonomi Tiongkok juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang memprioritaskan growth over reform.

Harapan terhadap perbaikan ekspor tersebut juga didorong oleh produk manufaktur yang terus membaik. Terjaganya stabilitas makroekonomi dan implementasi UU Pengampunan Pajak yang berjalan baik turut memberi kepercayaan kepada investor asing. Sentimen positif tersebut tercermin dari transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus cukup besar pada kuartal IV/2016.

Sementara itu, kebutuhan untuk persediaan (inventory) mengantisipasi musim dingin telah mendorong naiknya impor batubara Tiongkok. Dari domestik, harapan ekonomi tumbuh lebih baik dibandingkan 2016 terbuka lebar. Perbaikan kinerja ekspor pada kuartal IV tahun 2016 berpotensi berlanjut pada 2017 ditopang oleh kenaikan permintaan global, khususnya negara-negara mitra dagang, dan peningkatan harga komoditas global.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2016 tercatat meningkat menjadi USD116,4 miliar dan diperkirakan lebih tinggi pada 2017. Geliat investasi di Tanah Air juga semakin terlihat, didukung meningkatnya pembiayaan dari kredit perbankan ataupun pembiayaan nonbank. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap stabil.

Pada tahun ini, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan dampak pelonggaran kebijakan moneter serta makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK diperkirakan lebih baik, masing-masing dalam kisaran 10-12% dan 9-11%. Pembiayaan korporasi nonbank dari pasar keuangan juga diperkirakan terus meningkat, terutama dalam bentuk right issue dan penerbitan obligasi korporasi.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi domestik pada 2017 diperkirakan meningkat di kisaran 5,0-5,4%, lebih tinggi dari capaian tahun 2016. Harapan yang baik juga tercermin dari kondisi sistem keuangan domestik yang tetap stabil ditopang oleh ketahanan industri perbankan yang terjaga.

New year also brings new challenge. However, don’t limit your challenge, but challenge your limit. “Tahun baru juga berarti tantangan baru. Namun janganlah batasi tantanganmu, tapi tantanglah keterbatasanmu.” Begitu kira-kira kata orang bijak. Sejumlah harapan baru di tahun ini akan berhadapan dengan sejumlah tantangan baru dalam pencapaiannya.

Selain itu, seiring dengan membaiknya ekonomi AS, Fed Fund Rate (FFR) pada 2017 diperkirakan naik dua kali, yang berpotensi meningkatkan cost of borrowing . Di sisi dunia lain, proses penyesuaian ekonomi dan keuangan Tiongkok yang diperkirakan memperlemah mata uangnya untuk meningkatkan daya saing serta berbagai risiko geopolitik turut menjadi tantangan pada 2017 ini.

Dari sisi global, tantangan tersebut utamanya berasal dari dampak kebijakan fiskal dan perdagangan internasional AS. Meskipun banyak kalangan menilai bahwa rencana kebijakan fiskal yang agresif dari Presiden Donald Trump secara ekonomi kurang feasible karena dihadapkan pada kendala peningkatan defisit anggaran pemerintah yang tinggi, harus kita waspadai.

Tantangan lain yang perlu diwaspadai adalah harga minyak dunia yang cenderung meningkat dan tren peningkatannya diperkirakan terus berlanjut. Perkiraan lebih tingginya harga minyak pada 2017 didorong oleh realisasi harga Desember 2016 yang meningkat serta pelaksanaan kesepakatan OPEC dan 10 negara non-OPEC untuk melakukan pemangkasan produksi (production cut).

Hal ini utamanya terkait penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh pemerintah, serta risiko kenaikan harga volatile food. Dihadapkan pada sejumlah tantangan global dan domestik tersebut, serta prospek ekonomi ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18- 19 Januari 2017 memutuskan untukmempertahankanBI7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,75%.

Kebijakan pengurangan supply ini akan mendorong net demand, alias permintaan minyak yang lebih tinggi dari jumlah minyak yang ditawarkan. Akibatnya, harga minyak pada 2017 akan terkerek naik dan diperkirakan menjadi sekitar USD47-50 per barel, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Dari domestik, tantangan berasal dari upaya pengendalian inflasi yang akan menghadapi sejumlah risiko yang perlu terus diwaspadai.

Keputusan tersebut sejalan dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mengoptimalkan pemulihan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Disadari bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dalam satu atau dua tahun mendatang diperkirakan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 6%.

Nah, sebagai penjaga stabilitas ekonomi bangsa, Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap menjaganya dengan menerapkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, dengan tetap mempertimbangkan dukungan bagi optimalisasi pemulihan ekonomi.

Oleh karena itu diperlukan dorongan atau stimulus bagi pemulihan ekonomi domestik, baik dari sektor fiskal, sektor riil, maupun moneter. Namun, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang telah kita capai dengan segala ketekunan dan disiplin yang tinggi harus kita jaga, karena merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Harga-harga Komoditas Diprediksi naik 7,8% Tahun Ini | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Menurut Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengatakan salah satu komoditas yang meningkat misalnya batu bara. Ia mencontohkan, harga batu bara pada kuartal III ke kuartal IV tahun 2017 lalu meningkat 30% karena banyaknya permintaan dari China akibat China mengurangi produksinya.

Harga komoditas diperkirakan naik 7,8% pada tahun ini. Harga naik karena adanya peningkatan permintaan.

“Perkirakan kita tahun lalu sekitar 4,2% kenaikan harga komoditas ekspor kita, tahun 2017 itu kami perkirakan sekitar 7,8%, angkanya beda-beda adanya yang coal, nikel berbeda,” ujar Juda, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Senin (31/1/2017).

Di tahun 2017 ini, Juda memprediksi kenaikan harga seluruh komoditas mencapai 7,8%, sedangkan tahun lalu diperkirakan sekitar 4,2%.

Sementara itu, dari segi ekspor non komoditas ada kemungkinan ekspor mobil meningkat. Hal itu karena diperkirakan adanya tren meningkatnya konsumen sehingga diikuti produksi industri.

“Dari sisi produsen, dengan adanya perbaikan harga komoditas akan mendorong prospek ekonomi dan prospek produksi karena dengan demand yang baik akan mendorong produksi,” ujarnya.

“Tren non komoditas seperti mobil ada yang ke Filipina, Middle East, bahkan tekstil ke AS itu baik,” ujarnya.

Ia menyebut ekspor non komoditas yang paling banyak diperkirakan paling banyak ke Filipina dan Timur Tengah.

Ia mengatakan, kenaikan harga komoditas ini diperkirakan akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke ngara lain. Terutama bagi daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan dan Sumatera akan meraih pendapatan yang meningkat. Tren pengiriman kenaikan ekspor komoditas ini diperkirakan paling banyak ke China.

“Kalau komoditas China masih dominan karena dia mau mengarahkan ke domestik ekspornya sehingga membutuhkan natural resources dari luar negeri,” ujar Juda.

Rifan Financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s