PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Diresmikan, Pemerintah Akan Tambah Infrastruktur KEK Arun

Nilai investasi dari KEK baru ini mencapai US$3,8 miliar | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, KEK Arun resmi dibentuk karena dianggap paling siap dan telah lengkap memenuhi seluruh syarat pembentukan KEK, misalnya ketersediaan lahan, ketersediaan industri, infrastruktur hingga perusahaan atau konsorsium yang akan mengelolanya.

“Sudah lengkap semua persyaratan. Jadi, kami setujui dan kami akan kirim ke Presiden. Segera PP-nya,” ujar Darmin di kantornya, Senin (30/1).

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian resmi membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh dan akan segera menyodorkan rancangan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai landasan hukum KEK kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan, KEK Arun telah memiliki kesiapan yang matang dari segi ketersediaan kawasan, yakni lahan seluas 2.622,48 hektar.

“KEK di Lhouksemawe minta ditambah bandara, diperpanjang. Mau minta pelabuhan juga,” ujar Budi Karya pada kesempatan yang sama.

Hanya saja, pemerintah ingin melengkapi infrastruktur yang telah ada saat ini, yakni berupa perluasan kawasan bandara dan pelebaran jalan serta pembangunan pelabuhan.

Dalam pembentukan KEK Arun, pemerintah memiliki skema pengembangan kawasan untuk lima sektor industri dengan nilai investasi diperkira mencapai US$3,8 miliar dalam pembangunan berjangka 10 tahun dan diperkirakan mampu menyerang sekitar 40 ribu tenaga kerja.

Dalam pengembangannya, pemerintah menggandeng tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Iskandar Muda (Persero) atau PIM, dan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo I.

Pertamina akan diberi tugas oleh pemerintah untuk mengembangkan industri sektor energi, mulai dari infrastruktur fasilitas pengelolaan atau kilang hingga menjalankan industri saat sudah beroperasi nanti.

Kedua, industri sektor petrokimia. Ketiga, industri sektor agro pendukung ketahanan pangan. Pemerintah berupaya memanfaatkan potensi bahan baku pertanian dan pengembangan berbagai jenis usaha agro dan turunannya.

Keempat, industri sektor logistik melalui pengembangan infrastruktur logistik untuk mendukung proses masuk dan keluar dari industri migas, petrokimia, dan agro industri melalui peningkatan infrastruktur pelabuhan dan dermaga berstandar internasional. Kelima, industri penghasil kertas kantong semen (kertas craft).

Sementara PT PIM akan bersinergi dengan PT Pupuk Indonesia Group untuk mengembangkan industri petrokimia. Sedangkan Pelindo I akan mengambil peran dalam memastikan kelengkapan semua infrastruktur perhubungan yang dibutuhkan.

Darmin meyakini, pembentukan KEK Arun akan meningkatkan perekonomian di Lhokseumawe yang selanjutnya memberi imbas positif pada perekonomian Tanah Air melalui pembangunan kawasan industri yang terpusat.

Kemudian, pemerintah juga melakukan sinergi dari tiga BUMN tersebut dengan satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA). PDPA akan mengambil peran untuk mengembangkan industri agro pendukung ketahanan pangan.

Arun Lhokseumawe Jadi Kawasan Ekonomi Khusus | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, memastikan, pemerintah akan mengusulkan Arun Lhokseumawe, Aceh, untuk menjadi KEK baru. Penambahan jumlah KEK ini diharapkan menjadi pendorong perekonomian nasional.

“Semua persyaratan kami setujui, dan akan kirim ke Presiden (Joko Widodo),” ungkap Darmin usai rakor di kantornya, Jakarta, Senin malam, 30 Januari 2017.

Pemerintah bersama para pemangku kepentingan terkait kembali menggelar rapat koordinasi tingkat kementerian dan lembaga. Fokus pembahasan kali ini adalah mengenai Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK

Menurut rencana, kawasan tersebut akan diisi oleh bisnis-bisnis di sektor minyak, gas, dan energi, industri petrokimia, agroindustri pendukung ketahanan pangan, logistik, sampai dengan industri penghasil kertas kantong semen.

Dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan tersebut, nantinya akan terdiri atas gabungan perusahaan daerah, dan tiga Badan Usaha Milik Negara. Ketiga perusahaan pelat merah itu yaitu PT Pertamina, PT Pelindo I, dan PT Pupuk Iskandar Muda.

Meski begitu, penambahan Arun Lhokseumawe menjadi kawasan ekonomi baru tetap menunggu payung hukum yang berlaku. Mantan gubernur Bank Indonesia itu menegaskan, landasan hukum dari rencana tersebut segera rampung.

“Ada yang belum dilengkapi. Izin, surat juga masih belum selesai. Segera,” katanya.

Sementara itu, dari sisi nilai investasi yang diproyeksikan dari kawasan tersebut mencapai US$3,8 miliar, dengan perkiraan serapan tenaga kerja hingga 40 ribu orang dalam jangka waktu 10 tahun ke depan,

Selain Arun Lhokseumawe, Bintan dan Karimun juga menjadi salah satu wilayah yang dipertimbangkan untuk menjadi KEK baru. Namun, berdasarkan hasil rakor, pemerintah sepakat kedua kawasan itu belum memenuhi syarat mumpuni.

Dari 3 KEK, Baru 1 yang Tembus ke Presiden Jokowi | PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pembangunan ketiga KEK ini belum semua lengkap persyaratannya, sehingga akan diadakan pembahasan lanjutan. Dari ketiga KEK baru satu yang lengkap persyaratannya dan telah disetujui untuk selanjutnya diajukan ke Presiden

Pemerintah telah menargetkan pembangunan 3 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tahun ini. Ketiga KEK tersebut adalah Lhokseumawe di Aceh, Pulai Bintan di Kepulauan Riau dan Pulau Asem di Karimun Jawa.

“Yang sudah lengkap persyaratannya dan kami setujui itu 1, Lhokseumawe di Aceh yang bekerja sama dengan Pertamina, Pelindo I, BUMD perusahaan kertas, dan akan kami kirim ke Presiden,” ungkapnya di Kantor Kemenko di Jakarta, Senin (30/1/2017).

Sementara nilai investasi untuk ketiga pulau belum semua ada. Hanya dua kawasan yang sudah ada biayanya, yaitu Lhokseumawe dan Bintan yang mencapai nilai sebesar Rp86,79 triliun. Sedangkan untuk Pulau Asem belum ada rinciannya dan masih akan dibahas.

“Nilai investasi Lhokseumawe di Aceh Rp50,54 triliun untuk 10 tahun dan Bintan Rp36,25 triliun untuk 6 tahun. Yang satunya (Pulau Asem) masih dalam diskusi,” tuturnya.

Menko mengatakan, untuk Bintan masih dalam pembahasan karena lahan yang yang tidak terlalu penting masih di urus dan belum disetujui, sehingga belum dapat diajukan ke Presiden. Untuk Pulau Asem masih dalam pengurusan persoalan perijinan hutan.

“Itu urusan lahan apa yang major penting-penting sudah. Ada tiga atau empat yang tidak terlalu penting, belum (disetujui), kami akan setuju tapi kami akan naikkan setelah yang belum itu selesai. Yang ketiga, Pulau Asem di Karimun belum, masih ada persoalan hutan apa, itu saya bilang dibereskan dulu deh karena menyangkut tanah,” tutur dia.

Rifan Financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s