PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Cabai Impor Aman Dikonsumsi, Disperindag Tetap Pantau di Pasaran

Cabai merah kering impor juga sulit diterima masyarakat | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Cabai kering impor dari China dan India sudah diuji lab oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya, hasilnya aman untuk dikonsumsi. Meski demikian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah daerah, tetap akan memantau cabai impor tersebut.

Meskipun aman, pihaknya bekerjasama dengan disperindag kabupaten dan kota, tetap memantau produk impor tersebut. “Tetap kita pantau terus,” tuturnya.

“Prinsipnya, hasil dari uji lab di BBPOM aman (dikonsumsi),” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Jatim Ardi Prasetyawan, Jumat (24/2/2017).

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mengatakan, Disperindag Jatim bekerjasama dengan BBPOM di Surabaya menguji beberapa sampel cabai merah kering impor dari China dan India. Hasilnya, cabai impor tersebut tidak mengandung formalin dan Rhodamin B, dan aman dikonsumsi masyarakat.

Ardi mengatakan, kehadiran cabai merah kering impor di pasaran tidak sebanyak yang diperkirakan orang.

“Masyarakat tidak tertarik dengan cabai merah kering impor, karena masyarakat lebih suka dengan cabai segar lokal,” jelasnya.

Menurutnya, cabai merah kering impor juga sulit diterima masyarakat untuk kebutuhan sambal dan lainnya.

Cabai Kering Impor Masuk Sumenep | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Pedagang, Hodri, menuturkan bahwa cabai impor itu sudah ia dagangkan selama empat hari. Cabai itu didapatkan dari seorang pemasok di Surabaya. Harganya, lebih murah dibandingkan cabai lokal, yaitu Rp70 ribu per kilogram. Cabai lokal masih tembus Rp140/kg.

“Harga cabai impor jelas lebih murah dari cabai lokal,” tuturnya, Jumat, 24 Februari 2017.

Cabai kering impor ternyata sudah masuk Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Seperti yang terpantau di Pasar Anom, pasar tradisional terbesar di Kabupaten Sumenep.

Menurut dia, jika cabai impor kering itu direndam dalam air beberapa menit saja, maka akan mengembang menyerupai cabai yang baru dipetik dari batang. Warnanya juga lebih merah. Dia mengaku tidak tahu hal itu karena faktor alamiah atau bukan.

Meski masih tergolong baru, kata dia, cabai impor banyak diminati konsumen. Selain karena harga lebih murah, rasanya juga sama pedas.

“Saya mencoba keberuntungan saja. Ternyata banyak juga yang beli,” jelasnya.

Sementara pembeli, Silfi, mengaku enggan membeli cabai impor. Dia memilih cabai lokal karena barangnya lebih segar. Meski harga cabai impor lebih murah, dia mengaku tidak tertarik membelinya.

“Bukan karena takut mengandung apa. Tapi cabai lokal lebih segar saja,” ujarnya.

Selain cabai kering, dia juga menjual bawang merah impor. Harganya juga lebih murah dari bawang merah lokal, per kilogram Rp24 ribu. Bawang merah lokal Rp30 ribu/kg. Dia menjual bawang merah impor sudah berjalan selama satu bulan.

Hodri melanjutkan, untuk harga cabai jenis lain masih tidak berubah. Cabai merah besar seharga Rp25 ribu/kg, sedangkan harga cabai rawit hijau Rp60/kg.

Cabai impor juga beredar di Sumenep | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Cabai impor, yang dilaporkan sudah beredar di sejumlah daerah di Jawa Timur, peredarannya juga sudah sampai ke Pasar Anom Baru, Kecamatan Kota, Sumenep.

Ia menjelaskan, sesuai laporan dari stafnya, kondisi fisik cabai impor tersebut agak kering atau tidak dalam kondisi segar.

“Itu sesuai laporan dari staf kami yang secara rutin memantau harga komoditas di Pasar Anom Baru. Harganya Rp70 ribu per kilogram,” ujar Kabid Perdagangan Disperindag Sumenep, Sukaris, di Sumenep, Jumat.

Ia juga mengemukakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait di Disperindag Provinsi Jawa Timur untuk menanyakan peredaran cabai impor itu.

“Koordinasi akan kami lakukan guna menghindari hal-hal tak diinginkan. Kami tidak memiliki kewenangan untuk melarang atau menarik peredaran komoditas tersebut,” ujarnya.

Baca: Program DP rumah Rp 0, warga miskin wajib setor Rp 2,3 juta/bulan

Sementara jumlah pedagang yang menjual cabai impor di Pasar Anom Baru itu belum banyak, hanya satu hingga dua orang.

“Jumlah cabai impor yang dijual oleh pedagang tersebut juga tidak terlalu banyak, hanya sekitar 10 kilogram,” kata Sukaris, menerangkan.

Informasinya, pedagang di Pasar Anom Baru itu memasok cabai impor dari pedagang di Surabaya.

Sesuai hasil pemantauan yang dilakukan staf Disperindag Sumenep pada Kamis (23/2), harga cabai merah kecil biasa di Pasar Anom Baru di Kecamatan Kota Rp140 ribu per kilogram.

Harga cabai impor tersebut lebih murah dibanding harga cabai merah kecil biasa di Pasar Anom Baru.

PT Rifan Financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s