PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Enam jurus Kemenperin membangun industri

PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Indonesia berkomitmen menciptakan iklim investasi industri yang kondusif | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

“Mengingat pentingnya peran sektor industri dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional, maka perlu kebijakan untuk mengakselerasi pertumbuhannya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Workshop Pendalaman Kebijakan Industri untuk Wartawan di Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/4).

Kementerian Perindustrian menetapkan enam kebijakan prioritas industri nasional, yang sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019. Arah strategis tersebut meliputi peningkatan daya saing dan produktivitas, penumbuhan populasi industri, serta pengembangan perwilayahan industri di luar pulau Jawa.

Melalui enam kebijakan prioritas tersebut, Menperin optimistis industri pengolahan non-migas diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,2%-5,4, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%-5,4% pada 2017. Apalagi, pemerintah Indonesia berkomitmen menciptakan iklim investasi industri yang kondusif serta kemudahan berusaha melalui deregulasi dan paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan. “Terutama dengan adanya penurunan harga gas industri dan harga komoditas mulai bangkit,”

Keenam, pengembangan kawasan industri. Kemenperin mencatat, hingga akhir tahun 2016, tiga kawasan industri yang sudah beroperasi adalah di Sei Mangkei, Morowali, dan Bantaeng. Untuk tiga tahun ke depan, juga akan dipercepat pembangunan kawasan industri Tanjung Buton, Dumai, Berau (Kaltim),Tanah Kuning (Kaltara), JIIPE (Gresik), Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Wilmar (Serang, Banten) yang telah diusulkan dalam revisi Perpres Nomor 3 tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Kebijakan kelima adalah pengembangan industri berbasis sumber daya alam. Misalnya, upaya ini telah terimplementasi di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara yang menjadi pusat pengembangan industri smelter berbasis nikel.

Kemudian, kebijakan keempat, pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) dengan platform digital yang terintegrasi melalui program e-smart IKM. “Program ini merupakan suatu sistem database IKM yang tersaji dalam profil industri, sentra dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada dan didukung oleh sistem data base SIINAS,” jelas Airlangga.

Ketiga, Kemenperin tengah memacu pengembangan sektor padat karya berorientasi ekspor, antara lain industri alas kaki, industri tekstil dan produk tekstil, industri makanan dan minuman, industri furniture kayu dan rotan, serta industri kreatif. “Amunisi untuk memacu sektor-sektor tersebut, salah satunya dengan memberikan insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi,” tegasnya.

Kebijakan kedua, yakni pendalaman struktur industri melalui hilirisasi sektor kimia tekstil dan aneka, agro, serta logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika. “Rencana investasi sampai tahun 2020 dari sektor-sektor tersebut mencakup 97 proyek dengan nilai sebesar Rp 567,31 triliun dan diperkirakan menyerap tenaga kerja sebanyak 555.528 orang baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung,” ungkap Airlangga.

Menperin menjelaskan, pertama, kebijakan yang tengah dijalankan adalah penguatan SDM melalui penguatan vokasi industri yang meliputi pembinaan dan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match dengan industri. Selanjutnya, pembangunan dan penyelenggaraan Politeknik atau Akademi Komunitas di Kawasan Industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI).

ITS-Kemenperin Teken MoU Revitalisasi Nasdec | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan penandatanganan Nota kesepahaman (MoU) dengan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia, Senin (17/4). Kerja sama tersebut terkait revitalisasi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional (NaSDEC) di ITS.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, mengatakan saat ini Kemenperin mendorong tumbuhnya industri komponen kapal. “Jadi sebetulnya dari galangan sendiri itu kan denga kapasitas 1,2 juta ton kapal baru dan 12 juta ton untuk prepare itu sudah cukup penuh. Nah sekarang yang kita dorong adalah industri komponen kapal lebih banyak lagi. Bikin komponen-komponen kapal. Supaya prepare sama bikin kapalnya lebih cepat,” ucapnya.

Sedangkan ITS nantinya mempunyai tanggung jawab memberikan masukan dalam penyusunan program kegiatan yang berkaitan dengan revitalisasi NaSDEC; menyediakan sumber daya manusia seperti tenaga ahli, surveyor, operator komputer, juru gambar untuk kegiatan yang telah disepakati bersama; memfasilitasi pemanfaatan laboratorium uji dan infrastruktur yang dimiliki bagi kepentingan revitalisasi NASDEC; dan menyampaikan laporan kegiatan secara berkala kepada Kemenperin tentang program revitalisasi NASDEC minimal setahun sekali.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, dan Rektor ITS Joni Hermana di Ruang Sidang Utama, Gedung Rektorat ITS. Penandatanganan MoU disaksikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Ruang lingkup Nota Kesepahaman mencakup upaya revitalisasi dan mendorong kemandirian NaSDEC untuk menjadi center of excellence di bidang teknologi dan rekayasa kapal. Upaya ini juga mendukung program Nawa Cita pemerintah di bidang maritim yang meliputi aspek pengembangan, kelembagaan, sumber daya manusia, sarana, prasarana, dan pembiayaan.

Dalam Nota Kesepahaman tersebut, Kemenperin bertanggung jawab menyusun program kegiatan yang berkaitan dengan revitalisasi NaSDEC, memberikan pengarahan dan masukan dalam pelaksanaan program-program kegiatan revitalisasi, memberi dukungan pembiayaan revitalisasi NaSDEC sesuai dengan mekanisme pelaksanaan APBN, dan menetapkan prioritas kegiatan yang akan dikerjakan bersama ITS.

Joni Hermana mengatakan, saat ini ITS fokus melakukan hilirisasi agar produk-produk yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Pada 2016, ITS meraih 620 penghargaan dari berbagai kegiatan mahasiswa baik di dalam maupun luar negeri. Namun, ITS tidak ingin berhenti sebatas meraih penghargaan.

“Mimpi kami apa yang menjadi inovasi dan terobosan bisa dimanfaatkan bagi masyarakat. Namun, upaya menyebar manfaat hasil karya inovasi tanpa bantuan Kemenperin akan sia-sia,” jelas Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut.

Menurutnya, selama ini Dirjen ILMATE Kemenperi telah banyak membantu ITS dalam bidang maritim dan otomotif. Ia berharap melalui MoU tersebut dapat menyuntik energi para civitas akademika ITS untuk terus menghasilkan karya. “Ke depan kami berharap support Kemenperin lebih besar lagi. Selama ini kita sebagian besar di-support untuk industri dari otomotif dan maritim. Harapannya ini meluas ke bidang lain,” ungkap Joni.

Nota Kesepahaman tersebut bertujuan untuk melakukan revitalisasi agar Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional atau yang dikenal NaSDEC milik ITS, dapat menjadi badan usaha atau institusi mandiri. MoU juga untuk mendukung peningkatan daya saing industri perkapalan Indonesia baik di pasaran nasional dan internasional dengan mengembangkan desain produk kapal yang inovatif dan efisien.

“MoU itu terkait dengan fasilitasi kegiatan-kegiatan universitas yang membutuhkan bantuan ataupun fasilitasi dari Kemenperin,” kata Menperin Airlangga Hartarto.

Kementerian Perindustrian Akselerasi Pertumbuhan Industri dalam Negeri | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan yang saat ini sedang dijalankan oleh Kemenperin adalah penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguatan vokasi industri. Pengembangan tersebut, yakni meliputi pembinaan dan pengembangan sekolah menengah kejuruan berbasis kompetensi yang link and match dengan industri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menetapkan sejumlah langkah untuk melakukan akselerasi pertumbuhan industri dalam negeri. Langkah tersebut sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang meliputi peningkatan daya saing dan produktivtias, penumbuhan populasi industri, serta pengembangan perwilayahan industri di luar pulau Jawa.

Sebelumnya, Kemenperin telah meluncurkan program pendidikan sekolah vokasi di Jawa Timur pada Februari 2017. “Ditergetkan tahap kedua ini akan dilakukan kerja sama antara 368 SMK dengan 108 industri. Secara bertahap nanti juga dilakukan di Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Sumatera Utara pada tahun ini,” kata Airlangga.

Kemudian, Kemenperin juga akan melakukan pendalaman struktur industri melalui hilirisasi sektor kimia tekstil dan aneka, agro, logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika. Airlangga menjelaskan, rencana investasi sampai 2020 dari sektor-sektor tersebut mencakup 97 proyek dengan nilai sebesar Rp 567,31 triliun, dan diperkirakan menyerap tenaga kerja sebanyak 555.528 orang secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, ada pula pembangunan dan penyelenggaraan politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri dan wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI). “Selain itu, melaksanakan pelatihan tenaga kerja industri dengan sistem three in one yang meliputi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan karja,” ujar Airlangga dalam keterangan pers yang diterima Republika di Jakarta, Senin (17/4).

Program prioritas vokasi ini memiliki sasaran untuk mencapai satu juta tenaga kerja kompeten yang tersertifikasi hingga 2019 sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Dalam waktu dekat, Kemenperin akan meluncurkan kembali program pendidikan vokasi industri untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Di sisi lain, Kemenperin juga sedang memacu pengembangan sektor padat karya berorientasi ekspor antara lain industri alas kaki, industri tekstil dan produk tekstil, industri makanan dan minuman, industri furniture kayu dan rotan, serta industri kreatif. “Amunisi ini untuk memacu sektor-sektor tersebut, salah satunya dengan memberikan insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi,” ujar Airlangga.

Kemenperin mencatat, pada akhir 2016, terdapat tiga kawasan industri yang sudah beroperasi, yakni di Sei Mangke, Morowali, dan Bantaeng. Untuk tiga tahun ke depan, pemerintah akan mempercepat pembangunan kawasan industri di Tanjung Buton, Dumai, Berau, Tanah Kuning, JIIPE, Kendal, dan Kawasan Industri Terpadu Wilmar di Serang. Pembangunan kawasan industri ini telah diusulkan dalam revisi Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Pengembangan industri berbasis sumber daya alam juga menjadi perhatian bagi pemerintah. Upaya ini telah diimplementasikan di Kawasan Industri Morowali dan Kawasan Industri Konawe yang menjadi pusat pengembangan industri smelter berbasis nikel.

Airlangga menyampaikan, tujuan dari pengembangan kawasan indsutri tersebut, yakni untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. “Morowali mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 60 persen, sedangkan untuk Konawe 15 persen,” ujar Airlangga.

Airlangga mengatakan, Kemenperin juga melakukan pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) dengan platform digital yang terintegrasi melalui program e-smart IKM. Program ini merupakan suatu sistem data base IKM yang tersaji dalam profil industri, sentra dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah didukung oleh sistem data base SIINAS.

“Melalui program ini diharapkan dapat membantu para pelaku IKM dalam melakukan promosi dan meningkatkan penjualan produk di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga.

PT Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s