PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Harga Minyak Dunia Lanjutkan Penguatan

pt rifan financindo

Arab Saudi dan Rusia perpanjang pemangkasan produksi minyak hingga Maret 2018 | pt rifan financindo

Harga minyak dunia melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (16/5/2017). Penguatan ini terjadi pasca-pengumuman bersama dari Arab Saudi dan Rusia terkait dilanjutkannya pemangkasan produksi minyak hingga Maret 2018 mendatang.

Sementara itu, acuan harga minyak Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada pada posisi 49,10 dollar AS per barrel. Angka ini naik 25 sen atau 0,51 persen dibandingkan kemarin.

Mengutip Reuters, acuan harga minyak Brent berada pada level 52,05 dollar AS per barrel. Angka ini naik 23 sen atau 0,44 persen dibandingkan penutupan pada perdagangan sehari sebelumnya.

Arab Saudi dan Rusia kemarin menyatakan bahwa mereka setuju untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak sebesar 1,8 juta barrel per hari (bph) selama sembilan bulan hingga Maret 2018.

“Tekanannya sekarang berada di tangan para pejabat untuk mengimplementasikan janji ini,” kata James Woods, analis investasi global di Rivkin Securities.

Namun, belum ada kesepakatan resmi soal ini dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non OPEC lainnya.

“Seperti yang sudah kita lihat selama enam bulan terakhir, peningkatan produksi (minyak) AS dan rekor inventori telah mnbuat penguatan (harga) cenderung terbatas dan perpanjangan (pemangkasan produksi) selama sembilan bulan untuk saat ini tampaknya tidak akan memecahkan fakta itu,” ujar Woods.

Woods juga memprediksi bahwa pasokan minyak akan cenderung tetap berlimpah meskipun ada perpanjangan pemangkasan produksi.

Harga Minyak Dunia Diprediksi di Bawah USD55/Barel | pt rifan financindo

Peneliti dan Pengamat Energi Pri Agung Rakhmanto memprediksi harga minyak dunia berkisar di level USD50 hingga USD55 per barel. Harga minyak dunia tahun ini diyakini masih belum akan merangkak naik.

Menurutnya, harga minyak dunia belum akan membaik meski Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC) telah memangkas produksi minyaknya. Kecuali terjadi gejolak di faktor eksternal.

“2017 masih akan bertahan rendah, belum akan melebihi USD60. Masih di angka USD50-USD55 per barel,” kata Agung dalam diskusi bertema isu dan tantangan migas di Kantor Chevron, Gedung Sentral Senayan I, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017.

“Kira-kira kalau pun naik gradient-nya enggak langsung tinggi. Tidak jauh dari USD50-USD55 per barel. Kecuali ada gejolak luar biasa seperti perang itu bisa jadi naik luar biasa,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, katanya, investasi di sektor hulu migas dunia turut mengalami kemerosotan. Bahkan, investasi di sektor tersebut hanya sekitar USD11 miliar.

“Implikasinya, sejak 2014 investasi di semua negara turun. Indonesia juga turun,” pungkas dia.

Dia mengungkapkan, faktor tersebut dilatarbelakangi oleh pasokan minyak dunia yang melebihi permintaan. Sebab selama ini negara penghasil minyak memproduksi secara besar-besaran sehingga membuat harga minyak dunia sulit naik secara signifikan.

“Jadi harga minyak masih akan bertahan rendah dalam jangka waktu cukup lama. Kalau dia berbaik hati mau turunkan produksinya, mungkin harga minyak naik. Tapi dia enggak mau kalau harga minyak dunia terlalu tinggi,” ungkap dia.

Menyusul Lonjakan Harga Minyak, Bursa Asia Menguat | pt rifan financindo

Mengutip CNBC, Selasa (16/5/2017), indeks Nikkei 225 naik 0,5 persen. Sedangkan ASX 200 Australia ikut menguat 0,31 persen didorong oleh indeks sub bahan baku yang naik 0,86 persen.

Ini merupakan langkah pertama yang diambil OPEC dan negara rekan untuk mendukung harga minyak. Menteri Energi dari kedua negara produsen terbesar minyak dunia tersebut, menilai pemotongan pasokan harus diperpanjang selama sembilan bulan, dari Juni 2017 hingga Maret 2018.

Bursa Asia menguat pada pembukaan perdagangan Selasa pekan ini. Penguatan bursa Asia ini menyusul kenaikan harga minyak usai pengumuman dari Menteri Energi Rusia dan Arab Saudi.

Penguatan bursa Asia ini mengikuti kenaikan harga minyak mentah dunia melonjak 2 persen ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan mencapai US$ 52 per barel. Lonjakan harga terjadi usai Arab Saudi dan Rusia sepakat untuk kembali memotong pasokan hingga 2018.

Pada perdagangan sepanjang hari ini, investor akan fokus pada isu laporan Washington Post bahwa Trump mengungkapkan informasi yang sangat rahasia saat mengadakan pertemuan dengan pejabat Rusia pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 85,33 poin, atau 0,41 persen ke posisi 20,981.94. Sementara indeks S&P 500 meraih kenaikan 11,42 poin, atau 0,48 persen menjadi 2.402,32 dan Nasdaq Composite bertambah 28.44 poin, atau 0,46 persen ke level 6,149.67.

Sedangkan pada penutupan perdagangan semalam, Wall Street menguat dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan rekor tertingginya. Kenaikan indeks saham di Amerika Serikat (AS) tersebut didukung kenaikan harga saham teknologi usai terjadinya serangan cyber global dan meningkatnya harga minyak.

Tercatat saham Fireye (FEYE.O) naik 7,5 persen, dan Symantec (SYMC.O) serta Palo Alto Networks (PANW.N) meraih kenaikan masing-masing sekitar 3 persen.

Pendorong Wall Street adalah lonjakan saham perusahaan keamanan cyber terpicu aksi serangan ransomware WannaCry yang menyebar di seluruh dunia pada hari Jumat.

pt rifan financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s