PT Rifan Financindo · Rifan Financindo · Rifanfinancindo

Ramai di Malam Jumat, Apa Saja Isi Lapak Obat Kuat Kaki Lima?

rifan financindo

Obat kuat baik lokal mau pun impor tersedia | rifan financindo

Seorang pedagang obat kuat bernama Rinto mengatakan, berbagai obat kuat baik lokal mau pun impor tersedia di lapaknya. Ada viagra dari Amerika, lalu Black Ant asal China, hingga merek-merek lokal seperti Urat Madu. Harga-harga yang dipatok untuk setiap mereknya beragam, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Para pedagang obat kuat berjejer di sepanjang di jalan Matraman hingga Jatinegara. Mereka menjual aneka obat kuat lokal maupun impor, hingga produk lainnya.

Untuk masalah khasiat, Rinto mengatakan, viagra masih menjadi obat yang paling ampuh. Namun karena harganya yang mahal, pembeli lebih senang memilih merek asal China yang lebih terjangkau, dengan kualitas tak jauh beda.

“Kalau Viagra setengah tablet saja kuat semalaman. Black Ant juga lama, tapi enggak selama Viagra. Minumnya setengah sampai satu jam sebelum berhubungan, nanti langsung terasa khasiatnya,” jelas Rinto Selasa malam (16/5/2017).

Obat-obat kuat itu biasa dijual dengan cara diecer per tablet. Harganya bervariasi. Seperti viagra, satu tabletnya dihargai hingga Rp 100.000. Kemudian untuk obat dengan kualitas di bawahnya, seperti Maximum Powerful, dijual seharga Rp 45.000 per tablet. Sementara obat kuat Black Ant dibanderol Rp 30.000 untuk satu sachet berisi dua kapsul. Atau kalau cari yang lebih murah, merek lokal seperti Urat Madu dijual seharga Rp 10.000 per sachetnya.

Rinto mengatakan biasanya pembeli ramai pada waktu tertentu, misalnya saat malam Jumat. Konsumen Rinto mulai dari kalangan anak muda hingga orang tua.

“Biasanya sih malam Kamis, itu biasanya ramai (yang beli). Enggak tahu kenapa dari dulu begitu. Malam Jumat juga (ramai). Biasanya buka jam 7 malam, paling sampai jam 3 pagi (kalau ramai). Siapa saja beli di sini, saya siap meladeni,” tutur Rinto.

Pedagang lainnya bernama Abay mengatakan, dia menjual Blue Wizard, obat perangsang berbentuk cair yang dihargai Rp 150.000 per botol kecilnya. Ada juga yang berbentuk bubuk dari China. Harganya lebih murah, sekitar Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per sachet.

“Dia enggak berwarna sama enggak berasa. Bisa dicampur ke minuman apa saja,” ungkap Abay .

Abay juga menyediakan berbagai barang lainnya. Seperti alat kontrasepsi, magic tissue seharga Rp 10.000 untuk tiga sachet, hingga pembesar alat vital pria berbentuk vakum seharga Rp 500.000.

Lebih lanjut, Abay mengatakan, ada saja orang yang membeli dagangannya itu. Dia menjamin produk dagangannya tak akan mengecewakan pembeli.

“Dijamin ampuh. Kalau enggak ampuh tinggal dibalikin barangnya ke saya,” tukas Abay.

Abay mengatakan, hanya dalam waktu sekitar satu jam setelah mengkonsumsi obat perangsang tersebut, pengguna sudah bisa merasakan efeknya. Menurutnya, obat tersebut aman dikonsumsi tanpa memiliki efek samping yang negatif. Obat perangsang itu pun cukup laris dibeli.

“Paling laku (perangsang) yang dari China. Paling enggak dalam semalam habis itu bisa delapan bungkus (dibeli),” kata Abay.

Mengintip Bisnis Obat Kuat Kaki Lima di Jakarta | rifan financindo

Di tengah keramaian lalu lintas, para penjaja obat kuat berderet di sepanjang ruas jalan tersebut. Bermodal gerobak yang dimodifikasi untuk berjualan, mereka menawarkan aneka jenis obat kuat di pinggir jalan terbuka.

Tak ada yang berbeda pada ruas jalan Matraman hingga Jatinegara di siang hari. Suasananya sama seperti jalan raya Jakarta pada umumnya. Tapi di malam hari, sisi lain Jakarta hadir di kawasan itu.

Kawasan di sepanjang jalan Matraman hingga Jatinegara sendiri memang sudah terkenal sejak lama sebagai lokasi bisnis suplemen pembangkit gairah tersebut. Tak kurang dari 10 gerobak penjual obat kuat telah menampakan diri di sepanjang jalan selepas Magrib.

Masyarakat tak merasa asing lagi dengan para pedagang obat kuat di sana. Dengan posisi lapak yang berada di pinggir jalan, tentu memudahkan sejumlah pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki, pengendara sepeda motor, hingga mobil bisa mudah berhenti untuk melakukan transaksi, tanpa harus turun dari kendaraan, mirip layanan drive thru restoran cepat saji.

Puluhan jenis obat kuat tersedia. Mulai dari bentuk kapsul, pil, bubuk, hingga cair dengan berbagai merek bisa dicari di sana. Semuanya tertata dengan rapi di atas rak yang telah disusun.

“Daerah sini memang sudah terkenal dari dulu jadi tempat khas pedagang obat kuat, orang banyak cari ke sini” ujar salah seorang pedagang obat kuat bernama Rinto

Obat-obat kuat itu biasa dijual dengan cara diecer per tablet. Harganya bervariasi. Seperti viagra, satu tabletnya dihargai hingga Rp 100 ribu. Kemudian untuk obat dengan kualitas di bawahnya, seperti Maximum Powerful, dijual seharga Rp 45 ribu per tablet. Sementara obat kuat Black Ant dibanderol Rp 30 ribu untuk satu sachet berisi dua kapsul. Atau kalau cari yang lebih murah, merek lokal seperti Urat Madu dijual seharga Rp 10 ribu per sachetnya.

Rinto mengatakan, berbagai obat kuat baik lokal mau pun impor tersedia di lapaknya. Ada viagra dari Amerika, lalu Black Ant asal China, hingga merek-merek lokal seperti Urat Madu. Harga-harga yang dipatok untuk setiap mereknya beragam, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Sedangkan untuk jenis lainnya dapat dikonsumsi oleh siapa saja, tanpa menimbulkan efek samping. Walaupun, sebenarnya Rinto tak begitu paham dengan komposisi bahan baku obat kuat yang dia jual.

Rinto mengaku bisa menjelaskan khasiat obat kuat karena pernah mencobanya.

“Ini aman, saya jamin. Sudah pernah saya pakai semua kok. Barangnya juga asli,” tutur Rinto.

Untuk masalah khasiat, Rinto mengatakan, viagra masih menjadi obat yang paling ampuh. Namun karena harganya yang mahal, pembeli lebih senang memilih merek asal China yang lebih terjangkau, dengan kualitas tak jauh beda.

“Kalau Viagra setengah tablet saja kuat semalaman. Black Ant juga lama, tapi enggak selama Viagra. Minumnya setengah sampai satu jam sebelum berhubungan, nanti langsung terasa khasiatnya,” jelas Rinto.

Selain itu, Rinto mengatakan, setiap obat memiliki efek samping yang berbeda-beda. Terutama untuk viagra. Bagi penderita penyakit jantung, Rinto menyarankan untuk tidak menkonsumsi viagra. Mengkonsumsi Viagra, kata Rinto, akan membuat denyut jantung bekerja lebih cepat.

“Ini bisa bikin deg-degan, bahaya kalau yang punya penyakit jantung minum Viagra,” katanya.

Jual Obat Kuat Kaki Lima Omzetnya Rp 500 Ribu/Malam | rifan financindo

Membuka bisnis obat kuat mungkin tabu bagi sebagian besar orang. Alasannya, ada yang merasa bisnis tersebut tak bakal bertahan lama, hingga masalah gengsi berjualan obat pembangkit syahwat.

salah seorang pedagang obat kuat bernama Rinto mengatakan pemasukan dari bisnis obat kuat memang tak menentu.

Dalam sehari, rata-rata Rinto bisa mengantongi omzet sebesar Rp 300.000 – Rp 500.000. Senada, Rinto bilang pembeli ramai pada waktu tertentu, misalnya saat malam Jumat. Konsumen Rinto mulai dari kalangan anak muda hingga orang tua.

“Biasanya sih malam Kamis, itu biasanya ramai (yang beli). Enggak tahu kenapa dari dulu begitu. Malam Jumat juga (ramai). Biasanya buka jam 7 malam, paling sampai jam 3 pagi (kalau ramai). Siapa saja beli di sini, saya siap meladeni,” tutur Rinto.

Tapi tak demikian bagi seorang pria paruh baya bernama Abay. Pria tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak pedagang obat kuat di kawasan Jalan Matraman – Jatinegara, Jakarta Timur.

Abay melakoni bisnis obat kuat selama tujuh tahun sejak 2010 lalu. Pria berperawakan tambun itu mengaku menjual obat kuat merupakan satu-satunya mata pencarian.

Abay bercerita, dengan uang sekitar Rp 15 juta yang dimilikinya saat itu sebagai modal digunakan untuk membeli sebuah gerobak beserta sejumlah obat kuat dari seorang pemasok.

“Lumayan (modalnya), sekitar Rp 15 juta. Termasuk gerobak kan mahal udah berapa juta, belum obatnya,” cerita Abay

Ia mengaku pendapatannya setiap hari tak menentu. Rata-rata dia mengantongi omzet sekitar Rp 400.000 per harinya. Saat sedang sepi, kadang dia hanya mendapat Rp 100.000.

Abay mengatakan ada waktu tertentu obat kuat dagangannya laris. Salah satunya sebelum Lebaran datang. Walau tak begitu paham alasannya, namun Abay mengatakan, para pembeli di musim itu ialah orang-orang yang tak pulang kampung saat Lebaran.

“Enggak tahu kenapa begitu, tapi setiap mau Lebaran emang ramai. Ini kan obat cuma sebagai iseng-iseng saja yang pakai, bukan kebutuhan pokok,” katanya.

rifan financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s