PT Rifan Financindo Berjangka

BI Kaji Penerbitan Mata Uang Digital seperti Bitcoin

Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji kemungkinan diterbitkannya mata uang digital | PT Rifan Financindo Berjangka

 

 

  PT Rifanfinancindo Berjangka

Namun sebenarnya beberapa negara lain seperti Jepang, sudah melegalkan mata uang digital termasuk Bitcoin. Bahkan, Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Lesetja Kganyago, baru-baru ini mengatakan membuka peluang diterbitkannya mata uang digital.

Kganyago yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Dana Moneter Internasional (IMFC), mengatakan ketika dulu orang percaya pada catatan fisik perbankan, maka saat ini tidak ada alasan bagi bank sentral untuk tidak dapat berberpikir terkait menerbitkan mata uang digital.

“Tidak ada alasan kenala bank sentral tidak mulai memikirkan tentang mata uang digital. Sama ketika dulu mereka percaya saat bank sentral membuat catatan fisik keuangan,” kata Kganyago seperti dilansir laman resmi Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebelumnya, Bank Indonesia menegaskan melarang Bitcoin menjadi alat pembayaran di Indonesia. Masyarakat diimbau agar tidak menggunakan atau berinvestasi dengan mata uang digital karena berisiko.

Adapun kajian awal yang dimaksud tersebut adalah keuntungan dan kerugian uang digital yang diterbitkan bank sentral, implikasinya ke sektor keuangan lain, dan jenis transaksi seperti apa yang paling aman.
“Kami harus dalami pro and contra-nya, implikasinya, dan bila diterapkan yang paling aman dan efisien di transaksi apa. Ini sedang didalami,” jelasnya.

Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji kemungkinan diterbitkannya mata uang digital seperti Bitcoin. Namun hal ini masih berupa kajian awal dan belum akan direalisasikan dalam waktu dekat ini.

“BI sedang lakukan kajian awal seperti halnya beberapa bank sentral lainnya. Jadi belum ada rencana untuk terbitkan central bank digital currency (CBDC), masih dikaji dulu,” ujar Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko kepada kumparan (kumparan.com), Senin (29/1).

 

BI buka kemungkinan ubah Rupiah menjadi digital | PT Rifan Financindo Berjangka

IBM mengumpulkan inisiatif dari kalangan perbankan global yang akan mengadposi teknologi ini dalam bisnis bank.Dari Indonesia yang terlibat adalah Bank Danamon Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Permata, Bank Rakyat Indonesia.

“IBM tengah mengeksplorasi cara-cara baru agar jaringan pembayaran makin efisien dan transparan. Sehingga transaksi bisa berlangsung real time walau dilakukan di daerah paling terpencil,” kata Bridget van Kralingen, Senior Vice President of IBM Industry Platforms, Oktober lalu.

Dalam eksplorasi ini, IBM menggandeng Stellar, salah satu cryptocurrency dan KickEx Group, perusahaan layanan transaksi keuangan.

Jika BI jadi memanfaatkan blockchain dan menjadikan rupiah digital, maka uang rupiah berwujud sama dengan uang cryptocurency lain seperti bitcoin, ethereum, ripple, stellar atau lainnya.

“Karena kalau enggak, itu persiapan bikin program buat aplikasi enggak bisa nyandak,” kata Jahja, Senin (11/12/2017) seperti dikutip dari Wartaekonomi.

Dalam pengembangan blockchain, BCA tidak ada investasi secara khusus karena biaya pengembangan blokchain ini tidak terlalu mahal.

Lima bank di Indonesia, disebut juga ikut dalam pemanfaatan blockchain. Tahun lalu, perusahaan global IBM (International Business Machine) menyatakan, ada 5 bank di Indonesia yang akan mengadposi blockchain.

November lalu, mereka masih tahap stock taking, alias melihat apa yang bisa dilakukan dengan blockchain.

Bank-bank di Indonesia sebenarnya juga tengah menimang blockchain untuk mendukung layanan mereka.

Bank Central Asia (BCA) menyatakan sudah mengembangkan teknologi ini. Menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, pengembangan blockchain merupakan suatu keharusan untuk membangun aplikasi.

Ketika ada transaksi atau pergerakan uang tercatat jelas dan bisa diketahui publik. Semua komputer yang terhubung jaringan blockchain akan mencatat dan memberikan validitas secara otomatis. Sehingga, minim kesalahan, cepat, lebih murah dan mudah. Sistem ini susah diretas.

Salah satu contoh “buku besar publik” yang bisa dilihat adalah milik Stellar, salah satu cryptocurrency. Buku besar ini mencatat semua transaksi dan persebaran uang mereka.

BI selama ini sebenarnya sudah melirik blockchain. Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V. Panggabean November lalu mengatakan, tengah menjajaki blockchain.

Tapi mereka masih hati-hati mendalami teknologi ini. “Ada peluang, tapi risikonya juga besar,” ujar Eni di Jakarta, Kamis (9/11/2017), seperti dikutip dari Kompas.com.

Berbeda dengan cryptocurrency yang diterbitkan oleh sejumlah perusahaan, aset yang menjadi dasar transaksi rupiah BI lebih jelas dibanding cryptocurrency .

Susi juga menyebutkan pola perhitungan peredarannya juga akan disesuaikan dengan kondisi saat ini, seperti halnya peredaran uang rupiah yang memperhitungkan inflasi yang terjadi.

Teknologi blockchain ini serupa dengan teknologi yang melatari uang digital (cryptocurrency) seperti bitcoin, ethereum, ripple dan lainnya.

Blockchain secara sederhana bisa disebut “buku besar publik” (digital ledger). Teknologi ini menggunakan sistem server terdesentralisasi alias tersebar.

Bank Indonesia (BI) membuka kemungkinan menerbitkan rupiah dalam wujud digital. Dengan memanfaatkan kehadiran teknologi blockchain, rupiah yang selama ini diedarkan dalam bentuk uang fisik, akan berganti wujud menjadi digital.

Asisten Deputi Direktur Eksekutif Departemen Sistem Pembayaran BI Susiati Dewi mengatakan, teknologi itu mulai diiujicobakan BI pada tahun ini. Tujuannya, untuk mengefisiensikan industri sistem pembayaran.

“Suatu saat mungkin saja uang fisik yang kami edarkan menjadi digital. Sekarang belum. Semua negara di dunia belum ada yang merilis,” kata Susi kepada KONTAN, Jumat (26/1/2018).

 

Bank Indonesia Buka Kemungkinan Terbit Rupiah Digital | PT Rifan Financindo Berjangka

 

“Di suatu titik boleh dia tambahkan dan tak sudah ada yang ketahui siapa orang-orang di belakang sebab telah lintas negeri,” kata Susi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan, teknologi blockchain bukan adalah sesuatu yang haram. Tetapi, virtual currency yang diterbitkan oleh swasta yang tak diperbolehkan.

Lebih lanjut, menurutnya, kalau pemakaian teknologi blockchain yang hendak dimanafaatkan BI sampai boleh menerbitkan rupiah pada bentuk digital, bank sentral butuh memperhatikan sejumlah masalah. Contohnya, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia.

“Penerbitannya apakah boleh meningkatkan inflasi atau boleh menciptakan ekonomi lebih efisien,” kata Josua. Yang lebih penting lagi, BI butuh memperhatikan pengawasan peredarannya, keamanan peredarannya, sampai edukasi untuk penduduk.

Virtual currency sendiri waktu ini pastinya baru diterbitkan oleh sejumlah swasta. BI mencatat, ditemukan 1.490 virtual currency atau cryptocurrency yang berkembang sampai waktu ini, tergolong Bitcoin.

Tetapi, BI melarang semua pemakaian cryptocurrency, baik sebagai alat transaksi maupun sebagai komoditas. Karena, tak sudah ada pihak yang bertanggung jawab atas peredaran cryptocurrency, tergolong aset yang menjadi jaminannya.

Susi melanjutkan, penerbitan cryptocurrency selama ini dibatasi jumlahnya menurut hasil konsensus dan kenaikan nilainya menurut persepsi penggunanya sendiri. Tetapi, bukan tak mungkin jumlah penerbitannya bertambah lantaran tak jelas penjaminnya. Masalah ini, hendak merugikan penduduk.

Tidak hanya , tidaksama dengan virtual currency yang diterbitkan oleh sejumlah perusahaan, aset yang menjadi dasar transaksi virtual currency BI lebih jelas. Susi pun katakan, pola perhitungan peredarannya pun hendak disesuaikan dengan keadaan waktu ini, semisal halnya peredaran duit rupiah yang memperhitungkan inflasi yang terjadi.

Bank Sentral Singapura yang pertama mungkin menerapkan teknologi itu untuk sistem Real Time Gross Settlement-nya (RTGS). Sayangnya, “Mereka katakan teknologinya masuk belum stabil,” semakin Susi.

Teknologi blockchain sendiri rencananya hendak diadopsi oleh bank sentral-bank sentral di dunia. Dengan sekian, bank sentral-bank sentral nantinya hendak mempunyai central bank virtual currency atau central bank digital currency.

( Baca : Bank Indonesia Buka Kemungkinan Adanya Rupiah Digital )

Asisten Deputi Direktur Eksekutif Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Susiati Dewi menyampaikan, teknologi mulai diiujicobakan BI dalam tahun ini. Tujuannya, untuk mengefisiensikan industri sistem pembayaran.

“Suatu waktu mungkin saja duit fisik yang kita edarkan menjadi digital. Serang belum. Setiap negeri di dunia belum sudah ada yang merilis,” kata Susi kepada KONTAN, Jumat (26/1). Dengan sekian, virtual currency ini hendak dijamin dan diakui oleh negara-negara lain.

Bank Indonesia (BI) turut memanfaatkan kemunculan teknologi blockchain yang menjadi teknologi dasar beroperasinya bitcoin dancryptocurrency semisalnya. Lewat teknologi ini, tidak menutup kemungkinan mata duit rupiah fisik yang diedarkan BI selama ini, berubah menjadi digital.

PT Rifanfinancindo Berjangka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s