Rifan Financindo

KPK Telusuri Bukti Korupsi Pengadan Garuda ke Luar Negeri

(KPK) mulai insentif mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk | PT Rifan Financindo Berjangka

 

 

Rifan Financindo

Keterlibatan kasus suap ini tidak lepas dari peran Soetikno Soedarjo yang merupakan beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd perusahaan Singapura. Di Indonesia Soetikno menjabat sebagai petinggi PT Mugi Rekso Abadi (MRA). Dalam persidangan, pihak Roll Royce telah mengaku melebarkan sayap perusahaan dengan memberi profit petinggi di dunia antara lain Malaysia, Thailand, Brasil, Angola, dan salah satunya Indonesia.

Dalam pengadaan mesin pesawat Airbus A330-300 memiliki tiga pilihan tenaga mesin, yaitu Rolls Royce 700, Pratt & Whitney PW 400, atau GE CF6-80E. Garuda membeli pesawat bermesin Rolls Royce Trent 700. Mesin Trent 700 ini ternyata masuk ‘daftar hitam’ lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration Safety Alert. Namun, mesin itu tetap digunakan untuk menerbangkan Airbus A330-300.

Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk uang dan barang dari Soetikno. Uang yang diterima Emirsyah diduga 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Sementara itu, barang senilai USD2 juta tersebar di Singapura dan Indonesia. Emirsyah diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Seperti yang diketahui sejauh ini KPK menyatakan telah mengantongi bukti-bukti dugaan suap yang dilakukan oleh Emirsyah terkait dengan pembelian pesawat tersebut. Beberapa dugaan penyuapan itu terjadi di luar negeri sehingga penyidik memerlukan informasi tambahan dari negara seperti Inggris dan Singapura melalui mekanisme dipolomasi internasional.

Emirsyah disangka telah menerima suap sebesar 1,2 juta Euro dan US$180.000 atau setara dengan Rp20 miliar dari Rolls Rocye Ltd. Emir juga dianggap menerima gratifikasi barang senilai US$2 juta dari perusahaan yang sama. Dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Emirsyah ini berkaitan dengan pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 pada PT Garuda Indonesia Tbk.

“Tentu yang kita dalami atau jadikan fokus adalah kaitan antara proses pengadaan itu dan pihak-pihak di pengadaan itu terkait dengan dugaan fee yang diberikan kepada tersangka,” paparnya.

Febri berharap MLA dengan kedua lembaga penegak hukum ini dapat memperkuat bukti-bukti yang dimiliki KPK. Oleh karena itu saat ini penyidik KPK tengah menelusuri hubungan hukum, kontrak, perjanjian, maupun proses pengadaan di PT Garuda Indonesia. “Prinsip dasarnya kan kita harus kumpulkan bukti sekuat-kuatnya, itu yang kita kerjakan sekarang. Nah, bukti-bukti ini bisa berasal dari dalam dan luar negeri,” jelasnya..

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai insentif mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Saat ini KPK tengah mengejar bukti-bukti dugaan korupsi tersebut hingga ke Singapura dan Inggris melalui mutual legal assistance (MLA) dengan aparat penegak hukum di kedua negara tersebut.

“Kita masih proses di penyidikan. Untuk kasus Garuda ada dua proses paralel yang berjalan. Pertama proses lintas negara karena MLA sudah kita ajukan dan tinggal menunggu proses di negara masing-masing,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Febri mengungkapkan, selain menunggu bukti-bukti, KPK juga terus menggali informasi atau bukti lain melalui pemeriksaan sejumlah saksi, termasuk tersangka dalam kasus tersebut. Saat ini sejumlah saksi dan tersangka juga telah menjalani pemeriksaan di KPK. Pemeriksaan maraton dilakukan untuk memastikan keterlibatan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo dalam proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat.

Petinggi Garuda Indonesia Kembali Diperiksa Terkait Suap Pesawat | PT Rifan Financindo Berjangka

Emirsyah Satar dan Beneficial Owner Connaught International, Soetikno Soedarjo sekaligus Bos PT MRA, sudah ditetapkan. Namun, keduanya belum dilakukan penahanan oleh KPK.

Emirsyah diduga telah menerima suap dari perusahaan mesin Rolls Royce terkait dengan pengadaan mesin A330-300. Suap tersebut diberikan Rolls Royce kepada Emirsyah dalam bentuk uang dan barang melalui perantara Soetikno Soedarjo.

Sebelumnya pada Senin 29 Januari 2018, KPK sudah memeriksa Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, Iwan Joeniarto. Iwan diperiksa sebagai saksi.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan suap pembelian pesawat dan mesin pesawat Airbus A330-300 milik PT Garuda Indonesia dari perusahaan mesin raksasa di dunia Rolls Royce.

KPK, Rabu (31/1/2018) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Vice President Corporate Secretary and Investor Relations PT Garuda Indonesia, Hengki Heriandono.

“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi terkait kasus suap pesawat dan mesin pesawat,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Petinggi PT Garuda Indonesia kembali diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tekait suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus A330-300 milik PT Garuda Indonesia dari perusahaan mesin, Rolls Royce.

Pemeriksaan terkait suap yang dilakukan mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Beneficial Owner Connaught International, Soetikno Soedarjo sekaligus Bos PT MRA.

KPK Kejar Bukti Kasus Garuda ke Luar Negeri | PT Rifan Financindo Berjangka

Seperti diketahui, KPK me­nyatakan telah mengantongi bukti-bukti dugaan suap yang dilakukan Emirsyah terkait de­ngan pembelian pesawat terse­but. Beberapa dugaan penyua­pan itu terjadi di luar negeri sehingga penyidik memerlu­kan informasi tambahan dari negara lain, seperti Inggris dan Singapura melalui mekanisme diplomasi internasional.

Emirsyah disangka telah menerima suap sebesar 1,2 juta euro dan 180.000 dollar Amerika Serikat (AS) atau set­ara dengan dua miliar rupiah dari Rolls Rocye Ltd. Emir juga dianggap menerima gratifikasi barang senilai dua juta dollar AS dari perusahaan yang sama. Dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Emirsyah ini ber­kaitan dengan pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005–2014 pada PT Ga­ruda Indonesia.

Febri berharap MLA dengan kedua lembaga penegak hukum ini dapat memperkuat bukti-bukti yang dimiliki KPK. Oleh karena itu, saat ini penyidik KPK tengah menelusuri hubungan hukum, kontrak, perjanjian, maupun proses pengadaan di PT Garuda Indonesia.

“Prinsip dasarnya kan kami harus kumpulkan bukti sekuat-kuatnya. Itu yang kami kerja­kan sekarang. Nah, bukti-bukti ini bisa berasal dari dalam dan luar negeri,” kata Febri.

( Baca : Angkasa Pura II Rekrut Karyawan, IPK Segini. Ini Linknya )

Selain menunggu bukti-bukti, KPK terus menggali in­formasi atau bukti lain melalui pemeriksaan sejumlah saksi, termasuk tersangka dalam ka­sus tersebut. Saat ini, sejumlah saksi dan tersangka telah me­meriksa di KPK. Pemeriksaan maraton dilakukan untuk me­mastikan keterlibatan mantan Direktur Utama PT Garuda In­donesia, Emirsyah Satar, dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedarjo, dalam pro­ses pengadaan pesawat dan mesin pesawat.

“Tentu yang kami dalami atau jadikan fokus adalah kaitan antara proses pen­gadaan itu dan pihak-pihak di pengadaan itu terkait dengan dugaan fee yang diberikan ke­pada tersangka,” kata Febri.

Komisi Pember­antasan Korupsi (KPK) intensif mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. KPK tengah mengejar bukti-bukti du­gaan korupsi tersebut hingga ke Singapura dan Inggris melalui mutual legal assistance (MLA) dengan aparat penegak hukum di kedua negara tersebut.

“Kami masih proses di pe­nyidikan. Untuk kasus Garuda ada dua proses paralel yang berjalan. Proses lintas negara karena MLA sudah kami ajukan dan tinggal menunggu proses di negara masing-masing,” kata Juru Bicara KPK, Febri Dian­syah, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/1).

 

Rifan Financindo

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s