Rifan Financindo

Ini yang Membuat Garuda Rugi Rp 2,88 T di 2017

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sepanjang 2017 mencatatkan kerugian sebesar US$ 213,4 juta | PT Rifan Financindo Berjangka

 

 

Rifan Financindo

“Apakah pengaruh Gunung Agung, kalau kita lihat ada. Jumlah penumpang internasional kita memang mengalami penurun dalam satu hari estimasi pengaruh 1-1,5 juta,” tambah Pahala.

Sepanjang 2017 penumpang Garuda secara grup mencapai 36,2 juta penumpang. Angka itu terdiri dari penumpang Garuda Indonesia sebanyak 24 juta naik sedikit dari tahun sebelumnya 23,9 juta penumpang. Sementara penumpang Citilink naik dari 11,1 juta menjadi 12,3 juta penumpang.

Meski begitu, pengeluaran tersebut dianggap sebagai kebijakan manajemen dalam menyehatkan kondisi finansial perusahaan secara jangka panjang. Sedangkan partisipasi pada program tax amnesty tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan pajak yang tertunda sampai dengan 2015 lalu.

Selain itu fluktuasi penumpang juga cukup membuat keuangan Garuda Indonesia terganggu. Apalagi pada akhir tahun lalu terjadi erupsi Gunung Agung yang membuat penurunan penumpang internasional.

“Untuk fuel terkait sama harganya. Tapi sebenarnya bukan hanya karena peningkatan harganya tapi juga produksi (pesawat) meningkat jadi volume konsumsi bahan bakar juga naik,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury di Kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jakarta, Senin (26/2/2018).

Selain itu di 2017, Garuda Indonesia juga harus mengeluarkan biaya extra ordinary yang terdiri dari pembayaran pengampunan pajak (tax amnesty) dan denda legal di pengadilan Australia yang totalnya mencapai US$ 145,8 juta.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sepanjang 2017 mencatatkan kerugian sebesar US$ 213,4 juta atau setara Rp 2,88 triliun. Berbanding terbalik dengan 2016 yang berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 9,4 juta atau sekitar Rp 126,9 miliar.

Ada beberapa hal yang menyebabkan maskapai berpelat merah ini mengalami kerugian. Pertama membengkaknya total pengeluaran yang naik 13% dari US$ 3,7 miliar menjadi US$ 4,25 miliar. Kenaikan yang paling besar dari biaya bahan bakar yang naik 25% dari US$ 924 juta menjadi US$ 1,15 miliar.

( Baca : OMG… Garuda Indonesia Cetak Rugi Rp 2,88 Triliun )

Garuda Bukukan Pendapatan Operasional USD4,2 Miliar di 2017 | PT Rifan Financindo Berjangka

Sepanjang tahun 2017, Garuda Indonesia Group mengangkut 36,2 juta penumpang yang terdiri dari 24 juta penumpang Garuda Indonesia sebagai mainbrand dan 12,3 juta penumpang Citilink. Jumlah tersebut meningkat 3,5% dibandingkan tahun 2016 sebesar 35 juta penumpang.

Sementara melalui lini usaha kargo udara, Garuda Indonesia mengangkut 446.800 ton angkutan kargo, meningkat sebesar 7,4% dibandingkan tahun 2016 dengan pendapatan kargo Garuda Indonesia yang meningkat sebesar 8,2% menjadi USD237,1 juta di tahun 2017.

Saat ini Garuda Indonesia Group mengoperasikan total 202 pesawat, dengan rata-rata usia pesawat 5 tahun. Garuda Indonesia mengoperasikan sebanyak 144 pesawat. Adapun saat ini Citilink mengoperasikan sebanyak 58 armada pesawat.

Perhitungan catatan kerugian tersebut di luar perhitungan biaya extra ordinary items yang terdiri dari tax amnesty dan denda sebesar USD145,8 juta yang merupakan kebijakan jangka panjang manajemen dalam menyehatkan kondisi finansial perusahaan secara jangka panjang.

Sementara, bila ditambahkan dengan biaya tax amnesty dan denda pengadilan, maka total kerugian (net loss) yang dibukukan Garuda Indonesia pada tahun kinerja 2017 adalah sebesar USD213,4 juta.

Sepanjang tahun 2017, Garuda Indonesia juga berhasil menekan catatan kerugian dari kuartal I/2017 dari rugi sebesar USD99,1 juta menjadi rugi sebesar USD38,9 pada kuartal II/2017. Kemudian perusahaan berhasil membukukan laba bersih USD61,9 juta pada kuartal III/2017, naik 216,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” paparnya. Pada kinerja full year 2017, perusahaan menekan catatan kerugian hingga menjadi rugi USD67,6 juta.

“Hal itu menjadi bukti komitmen perusahaan untuk terus mengedepankan layanan berkualitas yang berorientasi customer experience di tengah strategi efisiensi yang dijalankan manajemen,” ungkap VP Corporate Secretary garuda Indonesia Hengki Heriandono dalam siaran pers, Senin (26/2/2018).

Tren pertumbuhan pendapatan operasional tersebut salah satunya ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional pada lini layanan penerbangan tidak berjadwal yang meningkat sebesar 56,9% menjadi USD301,5 juta. Selain itu sektor pendapatan lainnya (pendapatan di luar bisnis penerbangan dan pendapatan anak usaha) turut meningkat sebesar 20,9% dengan pembukuan pendapatan sebesar USD473,8 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan, selain berhasil meningkatkan pertumbuhan positif pada pendapatan operasional perusahaan, menutup tahun 2017 Garuda Indonesia juga berhasil mempertahankan capaian standardisasi layanan bintang lima dari Skytrax sejak tahun 2014.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan operasi sebesar USD4,2 miliar selama 2017, meningkat 8,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD3,9 miliar.

Selain itu Garuda Indonesia juga mencatatkan tingkat keterisian penumpang (seat load factor) sebesar 74,7% dengan tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) 86,4%.

Tahun 2017, Garuda Indonesia Catatkan Rugi 213,4 Juta Dollar AS | PT Rifan Financindo Berjangka

Dalam kesempatan itu, Pahala Mansury menambahkan biaya pengampunan pajak atau tax amnesty dan denda pengadilan juga berkontribusi terhadap membengkaknya rugi.

Biaya kedua komponen tersebut mencapai 145,8 juta dollar AS. “Partisipasi pada program tax amnesty tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan pajak yang tertunda sampai dengan tahun 2015,” ungkap Pahala dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/2/2018).

Selain itu, sektor pendapatan lainnya, yakni pendapatan di luar bisnis penerbangan dan anak usaha, meningkat 20,9 persen menjadi sebesar 473,8 juta dollar AS.

Sepanjang tahun 2017, Garuda Indonesia Group mengangkut sebanyak 36,2 juta penumpang. Jumlah tersebut terdiri dari 24 juta penumpang Garuda Indonesia dan 12,3 juta penumpang Citilink. Angka tersebut meningkat 3,5 persen dibandingkan jumlah penumpang yang diangkut pada tahun 2016 yang sebesar 35 juta penumpang.

Adapun pendapatan operasi Garuda tercatat sebesar 4,2 miliar dollar AS pada tahun 2017. Angka tersebut meningkat sebesar 8,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,9 miliar dollar AS.

Pahala menjelaskan, tren pertumbuhan pendapatan operasional tersebut salah satunya ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional pada lini layanan penerbangan tidak berjadwal yang meningkat 56,9 persen menjadi 301,5 juta dollar AS.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury menjelaskan, kerugian perseroan sebagian besar disebabkan tingginya meningkatnya biaya bahan bakar avtur, yakni sebesar 16,5 persen secara tahunan (yoy).

Sepanjang tahun 2017, biaya bahan bakar yang dikeluarkan Garuda mencapai 1,155 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 924,7 juta dollar AS.

Maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan kerugian bersih (net loss) sebesar 213,4 juta dollar AS sepanjang tahun 2017. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Garuda membukukan keuntungan sebesar 9,4 juta dollar AS.

 

 

Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s