Uncategorized

RI Terancam Banjir Baja Murah China

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China memanas | PT Rifan Financindo Berjangka

 

 

PT Rifan Financindo

Perang dagang ini pun menjadi sorotan dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah sendiri was-was dengan atas perseteruan dua negara tersebut.

Bagaimana dampaknya untuk Indonesia? Apakah Indonesia dirugikan atas perseteruan tersebut?

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China memanas. Kedua negara terlibat perang dagang, di mana masing-masing negara memberikan penghalang untuk barang masuk.

Di mulai dari AS yang menerapkan tarif bea masuk pada baja dan alumunium. Tak tinggal diam, China membalas dengan mengenakan tarif bea masuk produk-produk AS.

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China memanas. Kedua negara terlibat perang dagang, di mana masing-masing negara memberikan penghalang untuk barang masuk.

Di mulai dari AS yang menerapkan tarif bea masuk pada baja dan alumunium. Tak tinggal diam, China membalas dengan mengenakan tarif bea masuk produk-produk AS.

Kemudian, Kasan mengatakan, Indonesia berisiko menjadi negara peralihan dari produk dua negara itu. Barang-barang tersebut antara lain baja dan kedelai.

“Indonesia berisiko menjadi pasar pengalihan bagi produk ekspor kedua negara tersebut, antara lain dari RRT untuk besi baja dan aluminium serta dari AS antara lain buah-buahan dan kedelai,” sambungnya.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri mengatakan, perang dagang itu akan membuat ekspor baja dan alumunium Indonesia ke AS terganggu.

“Ekspor baja dan alumunium Indonesia ke AS yang pada tahun 2017 sebesar masing-masing US$ 70 juta dan US$219 juta diperkirakan akan terganggu. Sementara, produk ekspor Indonesia ke RRT tidak terlalu memberikan tekanan terhadap ekspor Indonesia mengingat peningkatan tarif bea masuk ditujukan bagi produk impor utama asal AS,” kata Kasan kepada detikFinance di Jakarta, Senin (26/3/2018).

Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China dikhawatirkan akan mengganggu kinerja perdagangan Indonesia. Sebab, Indonesia akan kesulitan melakukan ekspor, serta negara-negara yang berseteru akan mengalihkan produknya ke negara lain termasuk Indonesia.

 

Strategi Investasi di Tengah Risiko Perang Dagang AS-China | PT Rifan Financindo Berjangka

 

Oleh karena itu, pasar relatif lebih tenang.Steven menilai, langkah Trump mengenakan tarif impor lebih tinggi, dampaknya kecil terhadap pertumbuhan ekonomi China.

Hal itu termasuk jika AS mengenakan tarif impor ke seluruh komoditas China. Steven melihat, China cenderung berhati-hati untuk membalas langkah AS. Mengingat China juga akan menjaga hubungan dengan mitra dagang strategisnya.

“Dampak pertumbuhan ekonomi China dari langkah Trump tersebut kecil. Kami melihat dampak 0,12-0,14 persen. Kalau AS distrech dari komoditas China yang diimpor kami lihat dampaknya 0,2-0,3 persen, China membalas dari skala besar. Kami melihat tindakan China akan ajukan complent ke WTO dan mungkin kita akan melihat China respons fights dari suatu negara terganggu,” ujar Steven.

Pada Jumat 23 Maret 2018, IHSG melemah 43,37 poin atau 0,69 persen ke posisi 6.210,69. Tekanan itu mendorong IHSG alami koreksi 2,28 persen secara year to date (Ytd).

Head of Sales and Marketing PT Ashmore Assets Management Indonesia, Steven Satya Yudha menuturkan, pelaku pasar menanggapi negatif dari langkah Trump mengenakan tarif impor lebih tinggi kepada barang China. Hal ini didorong China merespons langkah AS. Akan tetapi, menurut Steven, China cenderung membalas lebih lembut.

( Baca : DPR Putuskan Nama Deputi dan Gubernur BI Hari Rabu )

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan mengenakan tarif impor barang dari China hingga USD 60 miliar. Penerapan tarif impor tersebut masih menunggu rilis daftar barang China yang dikenakan tarif dan tinjauan publik.

Sebelumnya Donald Trump telah mengenakan tarif impor baja dan aluminium dari China. Selain itu mesin cuci dan panel surya. China pun merespons langkah Trump dengan akan mengenakan lebih dari120 impor barang dari AS.Langkah Trump tersebut pun mengguncang pasar keuangan global pada pekan lalu. Hal itu termasuk IHSG.

Kekhawatiran perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China menekan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu. Diperkirakan volatilitas bursa saham masih tinggi ke depan.

Lalu bagaimana strategi investasi di pasar modal dengan ada isu perang dagang tersebut?

 

Misteri Indonesia 2030 | PT Rifan Financindo Berjangka

 

Amerika kehilangan legitimasi di Eropa. Ini tampak dari sikap beberapa negara, salah satunya Kanselir Jerman Angela Merkel yang dengan tegas menyatakan sudah waktunya Barat tidak lagi tergantung pada kepemimpinan Paman Sam. Di dalam negeri, Amerika tidak bisa melakukan konsolidasi elite untuk melakukan agenda-agenda besar.

Kembali ke Ghost Fleet, buku ini bisa dibaca sebagai warning dan provokasi agar Amerika segera melakukan interupsi ketika masih dalam posisi unggul. Ada pihak yang tidak menginginkan Amerika nantinya harus masuk ke suatu konflik—bahkan perang—yang tak mungkin dimenangkannya.

Amerika juga masih limbung karena belum pulih dari terpaan krisis ekonomi 2008. Krisis yang dimulai dari kredit macet sektor properti ini berkembang hingga memukul jantung kapitalisme, pasar bebas, dan secara khusus meruntuhkan kepercayaan kepada sistem keuangan global. Satu per satu raksasa keuangan Amerika tumbang, mulai dari Bear Sterns, Lehman Brothers, hingga AIG. Kemudian muncul krisis utang di Eropa yang meluluhlantakkan Yunani dan merembet ke Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Siprus. Bersamaan itu, mulai timbul krisis gelombang pengungsi ke Eropa.

Menurunya, kemampuan Amerika melakukan mobilisasi besar-besaran juga disebabkan menurunnya kekuatan ekonomi. Jika dulu “Barat” menguasai sekitar 70-80 persen ekonomi global, kini tinggal sekitar 40 persen karena direbut oleh Asia, khususnya Cina dan India.

Amerika Serikat memang masih unggul dalam banyak ukuran, namun ia sekarang tengah bergelut dengan krisis legitimasi para pemimpinnya serta konflik elite yang berlarut-larut sejak awal proses pemilihan umum hingga terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Krisis ini menyebabkan AS tidak mampu melakukan mobilisasi sumber daya besar-besaran karena tidak solidnya kekuatan-kekuatan domestik. Jika Amerika memutuskan pergi berperang, hambatan pertama yang akan dihadapi adalah penolakan besar-besaran dari rakyatnya sendiri.

Amerika juga sedang mencari bentuk kebijakan luar negerinya. Slogan Trump “Make Amerika Great Again” dan “America First” membuatnya berorientasi ke dalam (inward looking) dengan cakrawala yang sempit. Faktor ini yang menyebabkan barisan Amerika tampak belum rapi di tengah konflik global yang terus naik tensinya.

Di atas kertas, sebenarnya AS masih jauh lebih unggul dari Cina, dalam hal ekonomi, teknologi, apalagi militer. Namun, yang dilakukan Cina sekarang adalah memperkecil jarak, seperti pelari di nomor dua yang sedang bekerja keras menyusul pelari pertama. Pada 2030 itulah diperkirakan mereka akan berlari seiring. Dalam perspektif strategi perang, ini berarti Cina akan siap dan mampu menghadapi AS jika terjadi eskalasi konflik yang serius di Asia dan dunia.

Diskursus tentang kemungkinan Indonesia bubar pada 2030 yang dipicu oleh buku Ghost Fleet (2015) dan dikomentari oleh politisi dan para tokoh Indonesia ini menarik. Saya ingin menggunakannya sebagai momentum mengukur ketegangan geopolitik dunia dan prospek kekuatan Indonesia. Apa yang akan terjadi masih misteri. Sejumlah pemikir strategis memperkirakan 2030 adalah titik persilangan antara menurunnya dominasi Amerika Serikat dengan menguatnya Cina di bidang ekonomi, teknologi, dan militer. Jika tidak ada interupsi, maka Cina akan menjadi negara adidaya nomor satu dunia.

PT Rifan Financindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s