Rifanfinancindo Berjangka

Impor RI Mei 2018 Naik 28% Jadi US$ 17,64 Miliar

(BPS) mencatat impor Mei 2018 sebesar US$ 17,64 miliar | PT Rifan Financindo Berjangka

Rifanfinancindo Berjangka
Ia mengatakan impor minyak mentah Indonesia naik 10,26%, dan impor hasil minyak naik 29,33%.
“Demikian juga nilai gas. Bisa dilihat kenaikan impor terjadi di migas dan non migas, tapi tinggi terjadi di migas karena kenaikan harga minyak,” jelasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Mei 2018 sebesar US$ 17,64 miliar. Angka ini naik 28,12% dibandingkan Mei 2017.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan jika dibandingkan April 2018 maka nilai impor itu naik 9,17%.
“Impor migas kita naik 20,95%, non migasnya naik 7,19%,” katanya dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018).

Neraca dagang Mei 2018 diperkirakan defisit | PT Rifan Financindo Berjangka

Bhima memperkirakan, kenaikan ekspor hanya sekitar 6%–7% YoY. Soalnya, “Ada koreksi harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan beberapa komoditas lainnya,” ujarnya. Perang dagang juga kembali memukul ekspor produk unggulan negara kita, seperti CPO dan karet.

Sedang Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, neraca perdagangan surplus tipis US$ 264 juta, dengan proyeksi impor tumbuh 10,1% serta ekspor tumbuh 7,5% YoY.

Menurut David, tahun-tahun sebelumnya, puncak impor terjadi dua bulan sebelum Lebaran. Sementara satu bulan sebelum hari raya, impor kemungkinan masih tinggi tetapi tak setinggi dua impor dua bulan sebelum Lebaran.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan, neraca perdagangan Mei defisit hingga US$ 646,97 juta. Defisit terjadi akibat impor yang masih akan tumbuh tinggi sebesar 14,49% year on year (YoY), meski tak setinggi pertumbuhan impor bulan sebelumnya. Sementara ekspor masih akan tumbuh terbatas sebesar 5,36% YoY.

Bahkan, Bhima Yudhistira Adhinegara, Ekonom Institute Development of Economic and Finance (Indef), memproyeksikan, defisit neraca dagang Mei akan mencapai US$ 1,1 miliar. Sebab, impor barang konsumsi dan bahan baku menjelang Lebaran terbilang tinggi. Defisit neraca dagang migas juga berpotensi naik karena kenaikan harga minyak mentah dunia.

Moody’s Analytics dalam risetnya menyebutkan, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018 akan menorehkan defisit sebesar US$ 670 juta. Distorsi Ramadan pada pertengahan Mei lalu mendorong impor terutama barang konsumsi. “Acara terkait pesta keagamaan biasanya meningkatkan pertumbuhan impor,” sebut Moody’s Analytics dalam risetnya yang diterima KONTAN, Minggu (24/6).

Sedang ekspor kita sepanjang Mei kemungkinan melemah. Bahkan, pelemahan ekspor bakal berlanjut pada Juni sebagai dampak libur Lebaran yang panjang. “Sulit untuk mendapatkan pandangan yang tidak bias tentang ekspor dan impor Indonesia selama Juni karena lebih sedikit hari kerja, sehingga memengaruhi produksi dan pengiriman,” tulis Moody’s.

Neraca perdagangan Indonesia selama Mei 2018 diperkirakan akan mengalami defisit. Ini berarti, melanjutkan tren defisit bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,63 miliar. Tapi, defisit neraca dagang bulanan kali ini tidak akan melebihi US$ 1 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) bakal merilis data resmi kinerja ekspor impor Mei hari ini, Senin (25/6).

 

Ekonom proyeksikan neraca dagang Mei masih defisit | PT Rifan Financindo Berjangka

Sementara Ekonom Bank Central Asial (BCA) David Sumual memperkirakan, neraca perdagangan surplus tipis mencapai US$ 264 juta, dengan proyeksi impor tumbuh 10,1% yoy dan ekspor tumbuh 7,5% yoy.

Menurut David, pada tahun-tahun sebelumnya, puncak impor terjadi pada dua bulan sebelum lebaran. Sementara di satu bulan sebelum lebaran, impor kemungkinan masih tinggi tetapi tak setinggi dua impor dua bulan sebelum lebaran.

Meski begitu, David menilai potensi defisit neraca perdagangan di bulan Mei juga terbuka lebar. Sebab kinerja ekspor diperkirakan akan terbatas, apalagi di Juni karena terbatasnya jam kerja.

“Makanya masih ada kemungkinan defisit juga, tapi defisitnya kecil,” tambah David.

Tingginya pertumbuhan impor tersebut masih sejalan dengan permintaan saat ramadan dan menjelang Lebaran di Juni. Sementara ekspor diperkirakan masih akan tumbuh terbatas sebesar 5,36% yoy.

( Baca : Neraca Perdagangan RI Defisit (Lagi) US$ 1,52 Miliar di Mei )

Ekonom Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, defisit neraca dagang Mei akan mencapai US$ 1,1 miliar lantaran cukup tingginya impor barang konsumsi dan bahan baku menjelang Lebaran. Selain itu, defisit migas juga berpotensi naik karena naiknya harga minyak mentah dunia.

Bhima memperkirakan, kenaikan ekspor hanya mencapai 6%-7% yoy. Sebab, “Ada koreksi harga CPO dan beberapa komoditas lainnya,” kata Bhima, Minggu (24/6).

Tak hanya itu, perang dagang juga kembali memukul ekspor produk unggulan seperti CPO dan karet.

Neraca perdagangan Mei 2018 diperkirakan akan kembali mencatat defisit, menyusul defisit pada bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,63 miliar.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan, neraca perdagangan Mei masih akan mencatat defisit sebesar US$ 646,97 juta. Defisit tersebut akibat impor yang diperkirakan masih tumbuh tinggi sebesar 14,49% year on year (yoy), meski tak setinggi pertumbuhan impor bulan sebelumnya.

 

Rifanfinancindo Berjangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s